PRIBUMI.co.id, Romantika – Di bawah terik mentari, pak Darmi mengayuh sepeda motor tuanya menuju tempat mencari nafkah. Hari-harinya dia lalui dengan penuh semangat demi melihat orang-orang yang dia sayangi tersenyum.
Pak Darmi bekerja di salah satu perusahaan swasta bagian pergudangan. Hidupnya masih ngontrak bersama anak istri, satu-satunya barang berharga yang ia miliki adalah motor tua yang digunakan untuk mencari nafkah setiap harinya.
Hidup pas-pasan pasti bukanlah pilihan yang diinginkan Pak Darmi, namun itulah yang harus di jalani.
Ikhlas, bersyukur dan tetap Ikhtiar mencari rezeki adalah sebuah ‘jimat’ yang selalu dipegang teguh olehnya.
Di antara rekan-rekan kerjanya yang lain yang telah memiliki rumah dan kendaraan yang layak, Pak Darmi adalah satu-satunya yang tidak memiliki itu semua, namun ia bersyukur masih bisa memberi nafkah untuk keluarganya dengan uang halal.
Suatu hari, saat bersiap-siap pulang kerja, salah satu rekan kerjanya yang usianya lebih muda dari pak Darmi mengajaknya untuk tinggal berbincang-bincang.
“Pak, tinggallah sebentar aku mau bicara,” kata Edo. “Iya, ada apa?,” jawab Pak Darmi.
“Sejak awal kita bekerja, aku lihat Pak Darmi masih begitu-begitu saja hidupnya. Bagaimana kalau aku ajak bekerja sama?,” ucap Edo.
“Kerja apa?,”sambung Pak Darmi dengan penuh semangat berharap mendapatkan tambahan penghasilan lainnya.
“Besok, selepas kerja seperti saat ini, aku tunggu bapak di gudang. Kita bisa mengambil beberapa barang untuk di jual?,” Pak Darmi terperangah mendengar ucapan rekannya, sambil tersenyum tipis ia menolak ajakan Edo.
“Maaf, aku tidak bisa melakukan itu, aku takut,” kata Pak Darmi.
“Ah…tenang saja, tidak akan ada yang tahu. Teman-teman kita yang lain pun melakukannya, makanya mereka bisa memiliki kehidupan seperti saat ini. Aku kasihan melihat kehidupan bapak dan bapak pun bisa mendapatkan apa yang bapak inginkan,” sambung Edo sambil menjelaskan dengan mata berapi-api.
“Tidak, terima kasih. Aku bukannya takut pada siapa pun. Aku hanya takut pada Allah. Lebih kita pulang saja,” ajaknya pada Edo, sambil bergegas meninggalkan tempat itu.
Di sepanjang perjalanan, pikiran pak Darmi terus tertuju pada ajakan Edo tadi. Ia tidak menyangka Edo akan mengajaknya pada hal demikian. Memang Pak Darmi ingin mencari tambahan penghasilan agar bisa memiliki rumah impian, tapi tidak dengan jalan pintas seperti itu.
“Astagfirullah,” ucapnya berulang ulang sambil berdoa, “Semoga Allah selalu menjaga dan menjauhkanku pada hal yang buruk,” bisiknya dalam hati.
“Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya.” (HR At Tirmidzi)
Oleh karena itu, jangan sekali-kali mencoba menafkahi anak dengan barang haram atau barang yang didapat dari cara-cara yang haram. Karena membina dan menumbuhkan jiwa keagamaan pada anak-anak atau manusia pada umumnya sangat berkaitan erat dengan makanan dan minuman yang masuk ke rongga perutnya.
Tiba saatnya hari gajian, dan seperti biasa pak Darmi menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu seorang anak yatim yang tinggal dekat dengan tempatnya bekerja.
Yah, itulah Pak Darmi, meski hidup dengan keadaan pas-pasan ia tidak lupa mengeluarkan sedikit hartanya untuk orang yang membutuhkan.
Bahkan pernah sekali, salah satu rekannya membutuhkan dana untuk perobatan keluarganya, Pak Darmi tanpa ragu mengeluarkan sisa uang yang ada di kantongnya untuk membantu temannya.
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Rasulullah Muhammad SAW juga amat sering bersedekah, meski tidak dalam status bergelimang harta. Sekali mendapatkan rezeki, Nabi buru-buru menyedekahkannya.
Pak Darmi sangat bercita-cita ingin memiliki sebuah hunian untuk anak dan istrinya agar tidak lagi ngontrak dan harus berpindah-pindah tempat.
Meski banyak jalan pintas yang bisa ia lakukan, namun Pak Darmi tetap teguh pada pendiriannya, tidak ingin menafkahi anak istrinya dengan uang yang tidak halal.
Pernah suatu hari, Pak Darmi bercerita tentang impiannya pada rekannya, “Andai saja aku tidak dapat mewujudkan mimpinku membeli sebuah rumah untuk keluargaku di dunia, semoga Allah menyiapkannya di Akhirat kelak yang jauh lebih indah dari yang ku bayangkan,” itulah ucapan terakhir Pak Darmi sebelum kembali keharibaan-Nya karena sakit yang ia derita.
Rekan Pak Darmi, Edo yang pernah mengajaknya melakukan pekerjaan kotor bersama rekan yang lain akhirnya kedapatan pihak perusahaan dan diserahkan pada kepolisian untuk ditindak lanjuti. Begitulah orang yang tamak dan serakah akan menuai apa yang ia kerjakan.
Pepatah mengatakan “Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”
Pak Darmi adalah sosok yang patut dijadikan contoh, pekerja keras, semangat, kebaikan dan kejujurannya yang selalu dikenang rekan sejawatnya.
Berkat kebaikan Pak Darmi, akhirnya teman-temannya patungan membelikan sebuah hunian sederhana untuk anak istri Pak Darmi yang ditinggalkan.
Semoga Allah menempatkan Pak Darmi di sisinya dan membangunkan sebuah rumah impian di Surga-Nya.
Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput kita, maka berbuat baiklah semampumu seakan akan ini adalah hari terkhirmu di dunia. Bersedekahlah meski hidupmu pun belum layak untuk dikatakan mampu. Tak ada batasan untuk berbuat baik.
Penulis: Azzahra




