Lara

  • Bagikan
Ilustrasi seorang balita merindukan ibunya. (Dok: Ist)

Pribumi.co.id, Cerpen – Tubuh Lara telah terbaring kaku, sekarang tidak hanya mentalnya yang menyerah namun tubuhnya pun ikut menyerah.

Badannya yang tampak kurus dengan raut wajah yang penuh luka kini terbaring dalam sunyi hanya di temani seorang anak kecil berumur 3 tahun yang belum sepenuhnya mengerti akan kehilangan.

Setelah berpisah dari suaminya, Lara memilih tinggal di sebuah kota kecil bersama anak semata wayangnya.

Anaknya yang sejak didatangi warga tidak beranjak dari samping jasad ibunya. Menangis dan memeluk ibunya mungkin berharap ibunya membuka mata dan memberikannya pelukan hangat.

Di samping tubuh Lara terdapat surat dan pesan yang di tulisnya mungkin sebelum tubuhnya benar benar menyerah.

Untuk anakku, tumbuhlah jadi lelaki kuat, maafkan Ibu mu yang tak bisa mendampingmu hingga dewasa.

Untuk siapun yang sudi merawat anakku dengan setulus hatinya, aku ucapkan beribu terima kasih dan akan ku sampaikan pada Allah akan kebaikanmu. Anakku tak punya siapa pun jadi tolong jaga dan rawat dia.

Dan untuk kamu yang tak ingin ku sebutkan namanya, mari kita bertemu di pengadilan Tuhan. Akan ku adukan kepada penciptaku bagaimana kamu membunuhku secara perlahan-lahan hingga aku hancur seperti ini.

Lara adalah satu dari sekian banyak wanita dan seorang istri yang disepelekan suaminya hanya karena statusnya sebagai ibu rumah tangga.

Awalnya kehidupan rumah tangga Lara berjalan selayaknya pengantin baru, penuh cinta dan bahagia. Saling merindukan setiap hari meski hidup seatap. Namun keadaan itu berubah setelah Lara melahirkan.

Suaminya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, bahkan ketika keadaan ekonomi yang benar-benar hancur, Lara terpaksa menumpang hidup pada orang tuanya agar suaminya tak terlalu terbebani dengan keberadaan Lara dan bayinya saat itu.

Namun, setelah berbulan-bulan suaminya tak pernah memberi kabar, mencoba menghubunginya lewat pesan singkat yang tak kunjung dibalas.

“Mungkin kau di sana sedang sibuk mencari nafkah,” bisik Lara ke dalam dirinya.

Lara berusaha menahan setiap rindu, setiap penolakan, tidak dipedulikan bahkan ketika melakukan panggilan telepon, Lara hanya mendapat jawaban ketus oleh suaminya “Maaf aku sibuk”.  Setelah itu panggilan terputus dan begitulah terus menerus setiap saat jika di hubungi.

Sampai suatu hari Lara memberanikan diri datang ke kota tempat suaminya bekerja secara diam-diam, tanpa memberi tahu suaminya. Tentu saja suaminya kaget entah bahagia atau sebaliknya.

Suaminya membuka pintu dengan rasa malas, kemudian hanya memeluk anaknya yang masih balita setelah itu tidak ada pembicaraan selanjutnya, suaminya tanpak dingin.

“Mas tidak keluar mencari kerja, sudah jam 11 siang,” ucap Lara ingin membuka percakapan.

“Aku ngantuk,”sambung suaminya singkat.

Lara yang sudah terbiasa mendapatkan perlakuan dingin suaminya kembali mengemasi barang-barangnya dan membersihkan rumah suaminya yang hampir tak pernah tersentuh sapu. Berantakan dan berdebu.

Tiba-tiba suara notif handphone suaminya berbunyi, pesan masuk.

“Kak, nanti jadikan ketemuan di café? pesan itu singkat namun cukup membuat tubuh Lara bergetar.

“Dia siapa, Ya Allah,” bisik Lara sambil menangis masih terpaku menatap layar itu.

Lara yang penuh rasa ingin tahu membuka handphone suaminya yang ternyata di sana mendapati suaminya sering komunikasi wanita itu, sering berbalas pesan tengah malam, suaminya curhat bahwa ia susah tidur saat malam, bahwa dia kesepian. Mereka berbalas pesan saling memberi perhatian.

Kembali Lara menangis sejadi-jadinya, jantungnya berdetak kencang. Suaminya yang selama ini dingin terhadapnya, tidak pernah menghubungi dengan alasan sibuk, nyatanya sibuk berbalas pesan hingga tengah malam dengan wanita lain.

Lara menenangkan diri, mengambil alat sholatnya berdoa agar dikuatkan hatinya, namun rasa penasarannya begitu kuat. Lara membangunkan suaminya dengan nada bergetar sembari menangis

“Mas… Ini siapa?!” ucap Lara

“Teman!!!” suaminya menjawab dengan nada ketus

Setelah mendengar tangisan Lara, suaminya terbangun namun bukan pelukan yang diperoleh, bukan kalimat penenang namun kenyataan yang lebih pahit.

“Kamu kenapa pegang HP saya? Kamu tidak berhak mengotak-atik handphoneku atau apapun itu…!!!” suami Lara berteriak.

“Tapi, dia siapa mas?! saya lihat kalian sering bertemu, sering teleponan, dan sering berbalas pesan, sementara aku menangis, mengiba, menunggu pesanmu namun tak pernah kau hiraukan dengan alasan sibuk,” jawab Lara tak kalah tinggi suaranya.

“Bahkan, kalian memiliki foto dan video sering bersama di sebuah café, jalan-jalan dan makan bersama. Siapa dia mas?!” sambung Lara dengan penuh harap bahwa apa yang dilihat dan dipikirkan tidak nyata.

Suami Lara melotot dengan mata memerah.

“Kamu itu penuh drama, tidak membawa ketenangan batin dan setiap ucapanmu tidak produktif,” ucap suami Lara.

“Dia wanita cerdas, tidak setara denganmu. Dia wanita yang memiliki karir yang bagus, setiap kami bersama menenangkan untukku. Kamu tidak perlu cemburu karena kamu sudah kalah tanpa memulai,” ucap suami Lara dengan mata yang berbinar-binar kemudian berlalu mengambil sebatang rokok, kembali asik dengan dunianya bermain handphone dan merokok.

Setelah merokok, suaminya kembali masuk dan meleparkan tas ke arah istrinya.

“Kemasi barang-barangmu. Dia yang ingin ku temani untuk hidup seatap di rumah ini. Saya ceraikan kamu dan bawa anakmu segera keluar dari sini!” ucap suaminya tanpa rasa iba sedikit pun.

Lara terdiam, tapi kali ini tanpa air mata. Lara mencerna setiap kata yang diucapkan suaminya, dan itu penghinaan baginya. Lara tidak menyangka suaminya akan berkata demikian.

Lara mencoba berdamai dengan dirinya dan bersiap untuk pergi. Lara sadar bahwa percuma bertahan jika tidak ada lagi tempat di hati suaminya, tidak lagi dihargai sebagai ibu dan istri.

Beberapa bulan setelah kejadian pengusiran itu, akhirnya Lara dan suaminya resmi berpisah.

Setelah setahun perpisahan, Lara kalah dengan tubuhnya, kalah dengan luka batinnya yang menggerogoti tubuhnya hingga kurus dan tak terurus.

Lara kembali kepada Sang Pencipta dalam sunyi, membawa lukanya. Lara telah terbaring kaku hingga di temukan warga sekitar. Hanya anak kecil yang belum mengerti apa-apa duduk di sampingnya dan terus menangis.

Semoga di kehidupan selanjutnya kamu memiliki kehidupan yang lebih bahagia dan bertemu dengan lelaki yang memerlakukanmu bak ratu. Tenanglah di atas sana Lara, kamu sudah tidak sakit lagi.

Penulis: Arunika

  • Bagikan