Aku Bukan yang Diinginkan

  • Bagikan
Ilustrasi. (Dok: Simpul Rakyat)

Pribumi.co.id, Cerpen – Aurel mengenal Hamka di usia ketika pertanyaan tentang pernikahan sudah tidak bisa lagi dihindari. Bukan dari pertemuan yang dramatis, bukan pula dari kisah cinta yang membuat jantung berdebar tak karuan. Mereka dipertemukan oleh kesamaan yang sederhana: sama-sama lelah menjelaskan kenapa belum menikah.

Pertemuan pertama mereka berlangsung di sebuah rumah makan kecil di pinggir kota Makassar. Tidak romantis. Tidak ada bunga. Tidak ada gugup berlebihan. Hamka datang tepat waktu, kemeja rapi, wajahnya tenang, bahkan untuk seseorang yang sedang bertemu calon pasangan hidupnya.

“Aku tidak pandai basa-basi,” kata Hamka setelah minuman mereka datang.

Aurel tersenyum tipis. “Aku juga.”

Sejak awal, percakapan mereka seperti dua orang dewasa yang sedang membicakan rencana jangka panjang, bukan dua hati yang sedang jatuh cinta. Tentang pekerjaan. Tentang kesiapan. Tentang usia yang tidak lagi muda.

Hamka tidak pernah mengatakan “Aku mencintaimu”.

Ia hanya berkata, “Aku ingin menikah. Dan menurutku, kamu orang yang tepat.”

Aurel mengangguk pelan. Dalam hatinya, ada sesuatu yang singgah sebentar, samar, lalu mengendap tanpa suara. Ia berpikir, mungkin cinta memang tidak selalu datang dengan ledakan. Mungkin cinta orang dewasa memang tenang, rapi, dan masuk akal.

Lamaran Hamka datang tiga bulan kemudian. Sederhana. Tanpa kejutan. Tanpa air mata haru yang berlebihan. Ibunda Hamka menggenggam tangan Aurel erat-erat.

“Hamka sudah terlalu lama sendiri,” katanya lirih.

“Kami ingin dia punya teman pulang.”

Teman pulang. Bukan cinta pulang. Bukan rindu pulang.

Aurel menerima lamaran itu dengan senyum yang dijaga. Ia tidak tahu, apakah hatinya bahagia atau hanya patuh pada logika hidup yang berkata: ini sudah cukup baik.

Pernikahan mereka berlangsung khidmat. Aurel menjadi istri yang sah. Namanya tercatat dalam buku nikah, tapi tidak sepenuhnya dalam ruang terdalam hati suaminya.

Hari-hari awal pernikahan berjalan baik. Hamka bertanggung jawab. Tidak kasar. Tidak abai secara terang-terangan. Tapi ada jarak yang tidak pernah benar-benar bisa Aurel sentuh.

Hamka jarang bercerita. Jarang berbagi kegelisahan. Dan hampir tidak pernah terlihat kehilangan saat Aurel tidak ada di dekatnya.

Suatu malam, ketika Aurel pulang lebih larut karena pekerjaan, ia mendapati Hamka tetap menatap layar ponselnya tanpa bertanya apa pun.

“Kamu sudah makan?” tanya Aurel pelan.

“Sudah,” jawab Hamka singkat.

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada rasa ingin tahu.

Di kamar, Aurel menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun tidurnya sederhana. Rambutnya diikat asal. Ia tampak seperti istri pada umumnya. Tapi hatinya… terasa seperti tamu.

Malam itu, Aurel baru menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak: ia adalah istri yang sah, tapi bukan seseorang yang benar-benar diperjuangkan.

Kesepian tidak selalu datang karena sendirian. Kadang ia justru hadir ketika dua orang tidur di ranjang yang sama, berbagi atap yang sama, tapi hidup di dunia yang berbeda.

Aurel mulai merasakannya sejak bulan-bulan awal pernikahan mereka.

Hamka bukan suami yang buruk. Ia pulang tepat waktu. Menunaikan tanggung jawab. Tidak pernah meninggikan suara. Bahkan sesekali membawakan oleh-oleh kecil, berupa donat kesukaan Aurel, atau buah dari toko langganannya.

Tapi semua itu terasa seperti kewajiban yang dijalankan dengan rapi. Tanpa kehidupan. Tanpa rasa.

Pagi-pagi mereka selalu hampir sama. Aurel menyiapkan sarapan. Hamka duduk sambil memeriksa ponselnya. Kadang mereka makan bersama, kadang tidak. Percakapan mereka pendek-pendek, seperlunya.

“Hari ini pulang jam berapa?” tanyanya.

“Seperti biasa,” jawab Hamka tanpa menoleh.

Tidak ada cerita tentang hari yang melelahkan. Tidak ada keluh-kesah. Tidak ada tawa yang tiba-tiba pecah tanpa sebab.

Aurel sering berpikir, mungkin beginilah pernikahan orang dewasa. Tidak semua harus dibicakan. Tidak semua harus dirasakan bersama. Tapi di dalam hatinya, ada ruang kosong yang pelan-pelan melebar.

Suatu sore, Aurel pulang lebih cepat. Rumah sedang sunyi. Hamka ada di kamar kerja, pintunya setengah terbuka. Aurel hendak mengetuk, tapi langkahnya terhenti.

Hamka sedang tersenyum. Senyum yang jarang Aurel lihat.

Ia menatap layar ponselnya lama sekali. Lalu tertawa kecil, tawa yang ringan, seolah ada sesuatu yang membuat dadanya hangat.

Aurel berdiri mematung. Bukan karena cemburu. Melainkan karena asing.

Ia tidak pernah melihat Hamka tertawa seperti itu bersamanya.

Aurel memilih mundur. Ia ke dapur, menyeduh teh, mencoba menenangkan dirinya. Ia berkata pada dirinya sendiri: jangan berprasangka buruk. Tapi hati perempuan jarang bisa dibohongi oleh logika.

Malam itu, ketika mereka makan bersama, Aurel memberanikan diri bertanya.

“Kamu kelihatan senang hari ini,” katanya pelan.

Hamka mengangkat kepala sekilas. “Biasa saja.”

Jawaban itu seperti pintu yang ditutup perlahan tapi pasti.

Beberapa hari kemudian, Aurel menemukan sesuatu yang tidak ia cari. Ponsel Hamka tertinggal di meja makan. Layarnya menyala karena sebuah notifikasi.

Nama itu muncul singkat. Humairah

Tidak ada foto. Tidak ada emotikon berlebihan. Hanya pesan pendek: “Terima kasih sudah mendengarkan tadi.”

Aurel tidak membuka pesan itu. Tidak membaca lebih jauh. Tangannya gemetar meski ia tidak tahu kenapa. Ia meletakkan kembali ponsel itu seolah benda panas yang bisa membakar.

Sejak hari itu, Aurel mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya ia abaikan. Cara Hamka tiba-tiba lebih diam setelah menerima panggilan tertentu. Cara ia memalingkan layar ponsel saat mengetik pesan. Cara ia pergi ke balkon malam-malam, berdiri lama, sendirian.

Dan yang paling menyakitkan: Hamka tidak pernah merasa perlu menjelaskan apa pun.

Suatu malam, Aurel akhirnya tak sanggup lagi menyimpan semua di dadanya.

“Hamka, kita baik-baik saja, kan?” tanyanya.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya terasa berat.

Hamka terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Kita sudah menikah. Bukankah itu jawabannya?”

Aurel tersenyum, tapi senyumnya rapuh. Ia ingin berkata bahwa pernikahan bukan sekadar status. Bahwa ia ingin menjadi tempat pulang, bukan sekadar alamat.

Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Malam itu, Aurel menangis tanpa suara. Bukan karena Hamka menyakitinya dengan terang-terangan, tapi karena ia mulai mengerti: ia tidak sedang diperjuangkan, ia hanya sedang dijalani.

Dan di dalam kesunyian itu, Aurel akhirnya berani mengakui sesuatu yang selama ini ia sangkal, yaitu ia menikah dengan seseorang yang hatinya masih tinggal di masa lalu. Sementara ia sendiri, hanya mengisi ruang yang tersisa.

Di situlah Aurel tahu, menjadi istri tidak selalu berarti menjadi yang utama. Kadang, ia hanya berarti: pilihan yang datang setelah yang lain gagal diperjuangkan.

Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi marah. Tidak juga menangis. Ia hanya lelah berharap.

Aurel sampai di fase itu tanpa sadar.

Hari-hari berjalan seperti biasa. Rumah tetap rapi. Makanan tetap hangat di meja. Hamka tetap suami yang “baik”. Tapi sesuatu di dalam diri Aurel mulai mengendur, seperti tali yang terlalu lama ditarik tanpa pernah benar-benar dipegang.

Pagi itu, Aurel menerima pesan dari Ibunda Hamka. “Aurel, temani Hamka ke resepsi sore ini, ya. Teman lamanya menikah.”

Aurel mengiyakan. Ia memilih gaun sederhana warna hitam. Ia berdandan secukupnya. Tidak berharap apa-apa, selain menjalani peran sebagai istri.

Resepsi berlangsung ramai. Musik pelan mengalun. Tamu berdatangan. Aurel berdiri di samping Hamka, tersenyum seperlunya, menyalami orang-orang yang sebagian besar tidak ia kenal.

Lalu Hamka membeku.

Aurel merasakan perubahan itu sebelum melihat penyebabnya. Cara tubuh Hamka menegang. Cara napasnya tertahan sesaat.

Seorang perempuan berdiri beberapa langkah di depan mereka.

Rambutnya terurai rapi, gaunnya sederhana, memancarkan ketenangan yang tidak perlu dijelaskan..

“Humairah,” sapa Hamka.

Aurel menoleh. Dan di sanalah ia melihatnya.

Cara Hamka menyebut nama itu. Bukan sekadar menyapa. Melainkan mengingat.

Humairah tersenyum. “Hai, Hamka.”

Lalu pandangannya bergeser ke Aurel. “Ini…?”

“Istriku,” jawab Hamka cepat.

Istriku. Satu kata yang sah, tapi terasa dingin.

Humairah menjabat tangan Aurel. Hangat. Sopan. Tidak ada sikap yang berlebihan. Justru itu yang membuat Aurel semakin merasa kecil.

“Kamu beruntung,” kata Humairah nyaris berbisik.

“Hamka orang baik.”

Aurel tersenyum. “Terima kasih.”

Percakapan itu singkat. Humairah pamit. Hamka berdiri mematung beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Lalu ia menarik napas dalam, seolah baru saja keluar dari ruang yang penuh kenangan.

Sepanjang perjalanan pulang, Hamka diam. Setir digenggamnya kuat-kuat, Aurel memilih menatap jalan, memilih tidak bertanya.

Di rumah, Aurel duduk di tepi ranjang. Hamka berdiri di dekat jendela.

“Kamu masih memikirkannya?” tanya Aurel akhirnya.

Pertanyaan itu keluar tanpa emosi. Tanpa nada menuduh. Hanya ingin tahu.

Hamka tidak langsung menjawab. “Humairah… adalah bagian dari hidupku.”

Jawaban itu menghantam lubuk hatinya, meski diucapkan biasa saja.

“Aku tahu,” kata Aurel lirih.

“Aku hanya ingin tahu… apakah aku juga bagian yang sama pentingnya?”

Hamka menoleh. Matanya lelah. “Aurel, aku sudah menikah denganmu.”

Aurel tersenyum. Kali ini pahit. “Aku tidak bertanya soal status.”

Sunyi jatuh di antara mereka.

Malam itu, Aurel tidak menangis. Ia hanya duduk lama, menatap dinding, dan akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini ia hindari: cinta tidak pernah bisa dipaksa berpindah, meski pernikahan sudah sah di mata siapa pun.

Ia teringat semua momen kecil yang selama ini ia terima tanpa protes. Waktu yang selalu sisa. Perhatian yang datang belakangan. Perasaannya sendiri yang harus terus disesuaikan.

Aurel menyadari, ia tidak pernah benar-benar diperjuangkan. Ia hanya diterima… setelah yang lain tidak bisa lagi digenggam.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Aurel bertanya pada dirinya sendiri: Apakah bertahan adalah bentuk kesetiaan, atau justru pengkhianatan pada diri sendiri?

Di dalam diam yang panjang, Aurel tahu jawabannya mulai terbentuk. Pelan. Tapi pasti.

Tidak semua perpisahan diawali pertengkaran. Ada yang justru lahir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam.

Aurel bangun pagi itu dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada sesak. Tidak ada marah. Hanya ketenangan yang aneh, seperti seseorang yang akhirnya berhenti melawan arus dan memilih mengapung.

Hamka masih terlelap. Wajahnya damai. Aurel menatapnya lama, bukan dengan benci, melainkan dengan kejujuran yang utuh. Ia sadar, Hamka bukan orang jahat. Ia hanya mencintai dengan hati yang tidak lagi kosong.

Aurel ke dapur, membuat teh seperti biasa. Rutinitas terakhirnya sebagai istri.

Ia duduk di meja makan dan menulis sepucuk surat. Tangannya tidak gemetar. Kata-katanya mengalir pelan, seperti keputusan yang sudah matang sejak lama.

Hamka,

Aku tidak pergi karena tidak mencintaimu.

Aku pergi karena aku terlalu lama mencintaimu sendirian.

Aku lelah menjadi kuat untuk sesuatu yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Aku tidak ingin hidup sebagai jeda dari kisah cintamu yang lain.

Aku ingin dicintai tanpa harus menunggu.

Aku ingin menjadi pulang, bukan persinggahan.

Jaga dirimu baik-baik.

Aurel.

Aurel melipat surat itu rapi, meletakkannya di meja. Ia masuk ke kamar, mengambil tas kecil yang sudah ia siapkan sejak semalam. Tidak banyak barang. Ia tidak membawa kenangan.

Saat pintu tertutup, Aurel berhenti sejenak. Ia menghela napas Panjang, napas seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.

Di luar, pagi terasa cerah. Jalanan belum ramai. Aurel melangkah ringan, seolah beban yang selama ini menekan dadanya tertinggal di balik pintu rumah itu.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurel tidak bertanya ke mana ia akan pergi. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak lagi ingin tinggal di tempat di mana ia harus berjuang sendirian untuk dicintai.

Beberapa minggu kemudian, Aurel duduk di sebuah kafe kecil, membaca buku. Wajahnya tenang. Tidak ada raut perempuan yang baru saja patah. Hanya seseorang yang sedang menyusun ulang hidupnya.

Ia tersenyum kecil. Bukan karena sudah menemukan cinta baru, melainkan karena akhirnya berhenti memohon cinta yang salah.

Aurel belajar bahwa bahagia tidak selalu berarti bersama seseorang. Kadang bahagia adalah berani pergi, agar suatu hari nanti, ketika cinta yang benar datang, ia tidak lagi setengah hati.

Dan untuk siapa pun yang membaca kisah ini, jika kamu pernah menjadi pilihan kedua,
ingatlah: seumur hidup terlalu lama untuk dihabiskan sebagai cadangan.

Kamu pantas dicintai dengan utuh. Dipilih tanpa ragu. Diperjuangkan tanpa diminta.

Dan ketika kamu berani pergi dari yang salah, hidup akan memberi ruang untuk yang benar.

Penulis: AA Mappaita

 

  • Bagikan