PRIBUMI.co.id, Romantika – “Nak, bangun nak,” suara ibu bergetar. “Ada apa, bu?,” tanyaku.
“Kita harus segera keluar dari sini, air sudah masuk ke dalam rumah,” ujar ibu.
Kami bergegas keluar tanpa membawa barang berharga apapun.
Terdengar jerit tangis saling bersahut-sahutan meminta pertolongan, bersamaan gemuruh air yang semakin deras menghantam setiap yang dilaluinya, membuat suasana semakin mencekam.
Kami tidak merasakan firasat apapun bahwa bencana akan datang saat semua tertidur pulas, air bah tiba-tiba menyapu dan meluluhlantakkan perkampungan kami.
Perlahan-lahan air terus merambat memasuki perkampungan dan rumah-rumah penduduk dengan arus yang sangat deras.
Kami berlari tanpa arah, mencari tempat yang aman, hanya membawa pakaian yang melekat di badan.
Dalam keadaan yang gelap gulita, terlihat samar-samar beberapa penduduk yang ikut terbawa arus bersama dahan pepohonan.
Aku terus memegang erat tangan ibu, sambil berjalan menahan arus yang semakin kuat.
“Ibu sudah tidak kuat, Nak,” sambil berpelukan pada pohon pisang yang ditemui.
“Ibu harus kuat,” aku kuatkan ibu, meski hatiku pun menjerit ketakutan sambil sesekali berteriak meminta bantuan.
“Ayo bu, kita harus berjalan terus sampai ke tempat aman,” ajakku pada ibu.
“Ibu tidak sanggup, Nak,” suara ibu bergetar.
Ku rangkul ibu, hatiku gemetar melihat ibu kedinginan dan ketakutan hingga tubuhnya bergetar dan lemah.
Aku ingin menangis sekencang-kencangnya, namun aku harus kuat demi ibu.
Samar-samar kami melihat beberapa perahu karet mendekat, aku berteriak dan melambaikan tangan agar terlihat mereka.
“Sepertinya mereka melihat kita, bu,” kataku. Ibu hanya menatap nanar.
Perahu karet itu semakin mendekat, namun air semakin naik hampir sepinggang orang dewasa dengan arus yang cukup kuat.
Aku dan ibu terus berpegangan pada batang pisang yang hampir tumbang terbawa arus, namun tiba-tiba di depan kami ada ranting pohon yang cukup besar membuat pegangan kami terlepas dan terbawa arus.
Setelah itu, aku tidak lagi mengingat apapun, sampai tersadar aku sudah terbaring di atas tempat tidur.
Aku pikir ini hanya mimpi, ku coba membuka mata yang masih buram, memandang sekitar.
“Aku dimana?,” tanyaku pada orang di ujung ruangan itu.
“Kamu lagi di rumah sakit, tim SAR yang menemukanmu,” jawab orang itu.
Mataku berkaca-kaca, seketika aku ingat ibu. Ini bukan mimpi, ini nyata.
“Ibuku, Ibuku mana?,” tanyaku.
Aku menangis dan mencoba untuk bangun, aku meringis kesakitan, kaki sebelah kananku tidak mampu kugerakkan.
“Adik tenang dulu, biar kami yang membantu mencari informasi keberadaan ibunya,” kata petugas jaga mencoba menenangkanku.
Aku menjelaskan ciri-ciri ibu dan pakaian terakhir yang dikenakan, berharap ibu ditemukan dan baik-baik saja.
Hari demi hari ku lalui dengan penuh harap, keadaanku pun semakin membaik, namun harus menggunakan kursi roda, kata dokter, kakiku patah karena benturan benda tumpul.
Hanya ibu yang ku miliki, semenjak ayah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa ibu, aku hidup namun terasa mati tanpa ibu.
Aku mencoba mencari sendiri keberadaan ibu di pusat informasi, namun aku tidak mendapatkan informasi apapun. Pemerintah setempat mencatat ibu sebagai korban hilang.
Setelah keadaanku benar-benar pulih, aku akhirnya memutuskan ikut dengan keluarga jauh ibu.
Keputusan itu aku ambil lantaran perkampungan dan rumah kami sudah rata dengan tanah, tak ada yang tersisa, kecuali kenangan dan harapan untuk bertemu ibu kembali.
Di sini, tempat yang sangat asing bagiku, mereka dingin tak sehangat ibu. Aku benar-benar merasa sendiri. Hidup sebatangkara, tanpa ayah dan ibu.
Masih berharap ibu datang dan menjemputku kembali
Ibu, aku rindu…





