Pribumi.co.id, Cerpen – Suara ombak bersahut-sahutan, berpadu dengan gemerisik hujan yang turun perlahan, membasahi pasir dan tubuhku.
Aku duduk di bibir pantai, menatap senja yang kian redup. Kubiarkan tubuhku basah, berharap gundah di dada luruh bersama air hujan yang jatuh satu per satu.
Seseorang yang kukagumi datang membawa cinta untukku. Namun ada sesuatu yang prinsipil dalam diriku, sebuah batas yang tak bisa kulanggar. Bukan karena tak ingin, melainkan karena tak bisa.
Kak Restu kembali menelepon setelah panggilannya berkali-kali kuabaikan. Pesan-pesan berantai masuk silih berganti, seolah memintaku memberi ruang.
Ponselku kembali berdering. Kali ini, dengan napas yang kutahan, kuputuskan untuk menjawab.
“Assalamu’alaikum, Dik,” katanya dari seberang sana.
“Wa’alaikumsalam, Kak,” jawabku singkat.
Sejenak hening menyergap. Lalu suara khasnya yang berat memecah diam.
“Aku benar-benar menyukaimu. Sejak terakhir kita bertemu, bayang-bayangmu selalu menghantuiku. Maukah kau menjadi pacarku?”
Aku terdiam. Perlahan aku berdiri, mencari tempat berteduh. Hujan turun semakin deras. Desiran ombak dan gemuruh hujan tak mampu menenggelamkan kebimbanganku.
“Halo, Dik… kenapa diam? Aku ingin jawabanmu,” tanyanya, gelisah.
“Aku tidak bisa, Kak. Maafkan aku,” jawabku lirih.
“Tapi kenapa? Apa salahku? Bukankah aku merasa kita memiliki perasaan yang sama?” lanjutnya, nyaris memohon.
“Maafkan aku. Aku sungguh tak bisa membalasnya,” kataku, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tanpa pamit.
Tak lama kemudian, pesan panjang darinya masuk.
Ia menuliskan kekagumannya, bukan pada paras, katanya, melainkan pada pribadiku. Tentang penyesalannya yang terlambat menyadari. Tentang pengakuan bahwa ia pernah menyukai sahabatku, yang mungkin menjadi alasanku menolak. Tentang kesederhanaanku, ketulusanku dalam berteman, dan kebersamaan kami dalam percakapan-percakapan kecil. Ia meminta satu kesempatan, mencoba menjadi lebih dekat.
Dadaku sesak. Ada luka yang mengendap tanpa suara. Bagaimana pun caranya ia menjelaskan, hatiku tahu satu hal, ia pernah lebih dulu menyukai sahabatku. Dan aku tak akan pernah bersama seseorang yang pernah menaruh hati pada sahabatku. Itu prinsipku. Dan prinsip, bagiku, bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
Meski ia sosok yang kukagumi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang kharismatik, idola banyak mahasiswi, semua itu tak cukup kuat untuk menggeser batas dalam diriku.
Aku tetap menolak.
Di ujung senja, melalui pesan singkat, kutuliskan beribu maaf. Bahwa ketidakmampuanku membalas bukan karena rasa itu tak ada, melainkan karena prinsipku berdiri lebih kokoh dari perasaan itu sendiri.
Di penghujung senja, kututup rasaku untuknya.
Sejak saat itu, kami tak pernah lagi dipertemukan oleh kebetulan apa pun. Kelasku dan sekretariatnya berdampingan, namun sosoknya tak pernah lagi muncul di sana.
Kisah kami berakhir di penghujung senja.
Penulis: Arunika








