Baitullah dari Turki, Cinta yang Terbang Jauh ke Polewali Mandar

  • Bagikan
Pria asal Turki bernama Baitullah dengan istrinya Salmiati bersama kedua orang tuanya saat berfoto di rumah pengantin Desa Pulliwa, Kecamatan Bulo, Polman. (Foto: Ist)

Pribumi.co.id, Polewali Mandar – Pagi itu, di Desa Pulliwa yang dikepung hijaunya ladang dan langit yang teduh, seorang pria asing berdiri di beranda rumah panggung kayu. Langkahnya sedikit kaku, namun matanya menatap tenang.

Baju adat Mandar yang ia kenakan—hijau dengan sulaman putih—belum sepenuhnya pas di tubuhnya yang tinggi. Tapi hari itu, bukan soal kesempurnaan pakaian yang penting. Hari itu adalah hari ia menikah.

Namanya Baitullah, 31 tahun, pria asal Turki yang terbang lebih dari 9.000 kilometer hanya untuk satu alasan: menikahi perempuan yang ia kenal lewat Instagram.

Perempuan itu bernama Salmiati, 30 tahun, warga setempat yang sehari-hari membantu keluarganya mengurus kebun kecil dan usaha rumahan.

Tak ada yang menyangka, termasuk dirinya sendiri, bahwa sosok suaminya kelak bukan pria lokal, bukan pula kenalan lama, melainkan seseorang yang muncul dari dunia maya—dan membawa cinta nyata.

Dari Swipe ke Sumpah Setia

Perkenalan mereka bermula dari ketukan notifikasi sederhana. Satu pesan masuk dari akun asing. Salmiati mengaku sempat curiga. Wajah pria dalam foto itu terlalu rapi, terlalu asing. Tapi rasa ingin tahu lebih kuat daripada ketakutan.

“Awalnya pikir bohongan,” katanya, mengenang.

“Tapi dia terus kirim pesan, sopan, dan enggak pernah maksa,” lanjut Salmiati.

Komunikasi pun berjalan tersendat, dibantu aplikasi penerjemah. Kalimat-kalimat mereka sering kali kaku, kadang salah arti. Tapi lambat laun, pesan-pesan itu menemukan iramanya sendiri.

“Dia suka tanya tentang Indonesia. Tentang adat, keluarga, bahkan makanan,” kata Salmiati.

“Dia bilang suka liat foto-foto alam dan kampung saya,” tambahnya.

Dari ketertarikan itu, tumbuh rasa ingin tahu yang lebih dalam. Baitullah mulai belajar tentang Sulawesi.

Sementara Salmiati diam-diam mulai menanti notifikasi darinya setiap hari. Sampai akhirnya, Baitullah berkata pelan lewat teks yang diterjemahkan: “Saya ingin menikahimu.”

Salmiati terdiam lama. Tak pernah pacaran. Tak pernah bicara lewat telepon. Dan kini, pria yang belum pernah ia sentuh tangannya ingin mengikat hidup bersamanya.

“Saya kaget. Nangis juga waktu baca pesannya. Tapi entah kenapa, saya percaya dia tulus,” kata Salmiati.

Mahar dari Negeri yang Jauh

Sabtu, 12 April 2025, menjadi hari yang mengubah hidup mereka berdua. Di hadapan keluarga dan warga desa, Baitullah mengucap akad nikah dalam bahasa yang tak sepenuhnya ia kuasai, tapi ia hapalkan berhari-hari.

Tangannya gemetar ketika menyodorkan mahar: satu stel emas dan uang tunai Rp 70 juta. Bukti nyata dari ketulusan yang telah ia simpan berbulan-bulan.

“Saya happy. Saya cinta Indonesia. Saya mencintainya,” ujarnya singkat dengan mata berkaca-kaca.

Dia tak datang sendiri. Sahabatnya, Beqir Ona, ikut mendampingi sebagai penerjemah sekaligus penopang mental.

“Dia gugup, tapi sangat yakin. Itu yang bikin saya ikut terharu,” ujar Beqir, yang sudah seperti saudara bagi Baitullah.

Salmiati, yang sejak pagi hanya bisa tersenyum sambil menahan tangis, mengaku tak pernah membayangkan dirinya akan menikah seperti ini. Bukan dengan prosesi mewah, bukan pula kisah cinta klasik. Tapi dengan perjuangan dua hati yang menembus batas bahasa dan budaya.

“Kadang saya masih merasa mimpi. Tapi ini nyata. Dia ada di samping saya sekarang,” katanya pelan.

Membangun Rumah dari Bahasa Baru

Setelah pernikahan, tantangan baru pun datang. Bahasa masih menjadi jurang yang belum sepenuhnya terjembatani. Tapi cinta mereka seperti air: mencari celah, mengalir pelan, tak pernah menyerah.

“Kami belajar bahasa satu sama lain. Saya ajari dia bahasa Bugis sedikit-sedikit. Dia ajari saya bahasa Turki,” ujar Salmiati.

Warga desa menyambut Baitullah dengan tangan terbuka. Meski logatnya asing, senyum dan sopan santunnya cepat mencairkan suasana.

“Dia sering ikut kerja bakti. Suka tanya ini-itu soal kampung,” kata seorang tetangga.

Kini, pasangan lintas benua itu berencana membangun usaha kecil bersama di desa.

“Dia bilang ingin tinggal lama di sini. Katanya, kampung saya lebih tenang dari kota mana pun di dunia.” ujar Salmiati.

Cinta Salmiati dan Baitullah bukan kisah yang lahir dari romansa mewah atau pertemuan manis di kafe ibu kota. Ini cinta yang dibangun dengan keberanian, kepercayaan, dan ketekunan mengatasi perbedaan.

Di desa kecil bernama Pulliwa, cinta membuktikan bahwa jarak hanyalah angka, bahasa hanyalah alat, dan hati… selalu tahu ke mana harus pulang. (Susanti/Pribumi)

  • Bagikan