Kisah Sedih, Suamiku Dihina Keluarga karena Masih Pengangguran

  • Bagikan
Ilustrasi pasangan suami istri. (Dok: Ist)

Pribumi.co.id – Di tengah senja yang meredup, Nadia duduk di teras rumah mereka yang kecil.

Cahaya kuning keemasan menyusup masuk dari celah-celah tirai yang usang.

Di pelananya, secangkir teh hangat berdebu menanti, tetapi hatinya jauh dari kata-kata yang manis.

Suaminya, Rafi, duduk di sampingnya dengan pandangan kosong.

Wajahnya yang dulu ceria dan penuh semangat, kini tertutup oleh bayang-bayang kekecewaan.

Mereka baru saja pulang dari rumah orang tua Rafi, tempat di mana kehangatan keluarga seharusnya bersemi.

“Kenapa mereka harus begini, Nad?” Rafi akhirnya memecah keheningan.

Nadia meremas sarung tangan rajutnya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat.

“Mereka tidak mengerti, Raf. Mereka pikir kita gagal karena kita belum punya pekerjaan tetap,” kata Nadia.

“Kita berusaha, Nad. Tapi kenapa mereka tidak melihat usaha kita?” Rafi menatap langit yang mulai memerah di ufuk timur.

“Kita akan melaluinya bersama,” Nadia mencoba menguatkan. “Aku tahu betapa sulitnya, tapi kita harus tetap bersama.”

Malam itu, mereka tidur dalam keheningan yang menyedihkan. Nadia merasakan pelukan Rafi yang hangat, tetapi dirinya merasa terpisah oleh dinding tak terlihat dari dunia luar.

Hari-hari berlalu, dan tekanan dari luar semakin terasa.

Keluarga Rafi terus menanyakan kapan mereka akan memiliki rumah sendiri, atau setidaknya ketika Rafi akan mendapat pekerjaan yang layak.

Nadia berusaha tegar di depan suaminya, tetapi dalam diam, hatinya hancur.

Suatu pagi, Nadia menemukan Rafi duduk sendiri di teras. Wajahnya yang dulu lincah dan penuh semangat, kini terlihat pucat. “Rafi, apa yang terjadi?”

Rafi menatap istri tercintanya dengan matanya yang kosong. “Aku mencoba, Nad. Tapi rasanya semakin sulit. Aku merasa seperti seorang gagal di mata mereka.”

“Kita bisa melaluinya bersama,” bisik Nadia, mencoba menenangkan suaminya yang putus asa.

Namun, semakin lama, Rafi semakin terpuruk. Dia merasa seperti beban bagi Nadia, dan lebih dari itu, dia merasa telah kehilangan harga dirinya sendiri.

Suatu hari, tanpa sepatah kata pun, Rafi pergi meninggalkan sebuah surat di meja makan.

Nadia terjaga oleh dinginnya dini hari. Dia menemukan surat itu di bawah cangkir teh yang tidak pernah diminum Rafi. Dalam surat itu, Rafi menulis,

“Maafkan aku, Nad. Aku tidak bisa melihatmu menderita lebih lama. Aku pergi mencari jalan keluar. Aku mencintaimu, tetapi aku merasa tak berguna di sini,” demikian isi surat Rafi.

Air mata Nadia jatuh membasahi surat itu. Dia merasakan sakit yang tak terlukiskan di dadanya. Rafi pergi, meninggalkan seutas tali yang kini terasa putus di antara mereka.

Di teras yang sama, dengan secangkir teh yang tetap hangat di hadapannya, Nadia menatap langit yang sedang berubah warna.

Kini, dia sendiri harus memilih, apakah dia akan menunggu Rafi kembali, atau membiarkan cintanya pergi bersama senja yang mulai meredup itu. (AA/Pribumi.co.id)

  • Bagikan