Aku Bukan Pelakor

  • Bagikan
Ilustrasi Pelakor. (Dok: Ist)

PRIBUMI.co.id, Romantika – “Kamu mengaku saja, dasar wanita penggoda,” sahut salah satu wanita tambun yang berdiri di belakangku sambil sesekali menjambak rambutku.

“Pelakor mana ada yang mau ngaku,” sahut wanita di sebelahnya.

Aku diseret dan dipaksa menuju rumah pak RT.

Di rumah itu aku didudukkan di sebuah kursi dan mereka berdiri mengelilingiku seakan aku adalah mangsanya yang ingin mereka terkam.

Pak RT tidak mampu membendung luapan emosi mereka, semua cacian, sumpah serapah keluar dari mulut mereka tanpa aku diberi kesempatan untuk menjelaskan.

“Berikan saya kesempatan untuk menjelaskan, dan tolong hadirkan Kak Deri disini juga agar jelas semua,” kataku sambil menahan tangis.

“Alaaah… mana ada pelakor mau ngaku? Dasar Wanita murahan,”

Mendengar kalimat itu, air mataku sudah tidak terbendung lagi. Aku menangis sesenggukan, tak ada yang peduli selain wanita paruh baya yang kemungkinan beliau istri pak RT.

“Aku butuh mama, andai mama ada di sini pasti akan membelaku,” bisikku dalam hati sambil terisak.

Kepalaku terasa berat, msemua gelap dan akhirnya pertahananku tumbang aku jatuh pingsan.

Aku adalah seorang gadis desa yang meninggalkan kampung halaman dan keluarga demi untuk menuntut ilmu di univeraitas terkemuka di Jakarta.

Pertama kalinya melihat hinggar-binggar lampu jalanan, bus yang lalu lalang tanpa henti dan gedung menjulang tinggi. Aku begitu takjub melihat pemandangan itu.

Hidup di rantauan, jauh dari sanak keluarga memaksaku untuk mandiri, demi menghemat biaya aku memilih tempat yang dekat dengan kampus namun dengan biaya murah.

Tak mudah memang mendapatkan tempat yang nyaman dengan biaya yang murah apalagi di ibukota seperti ini.

Perkenalanku dengan sosok pria yang merupakan senior di kampus tersebut yang mengubah semua alur cerita yang sempat aku rancang dengan indah kemudian mengubahnya menjadi mimpi buruk.

Dia adalah kak Deri, senior di kampusku yang secara kebetulan membantuku mencari tempat kost dan akhirnya kami menemukan hunian yang nyaman, murah dan tidak terlalu jauh dari kampus.

Hampir setiap hari aku dijemput dan diantar pulang kak Deri. Katanya, rumah kami searah jadi lumayan irit ongkos.

Tidak hanya itu, kak Deri pun sering membantu tugas-tugas kampusku karena kami mengambil jurusan yang sama, cuma beda tingkatan.

“Aku nyaman di dekat dek Mala, aku singgel dan dek Mala pun demikian. maukah adik menjadi kekasih kakak?,”

Aku sangat ingat kata-kata kakak di depat rumah setelah mengantar ku pulang dari Kampus.

Aku yang sudah merasa nyaman, aku pun mengiyyakan permintaan itu.

Sosok kak Deri sangat baik dan dewasa. Setiap saat aku butuh bantuan pasti dia selalu ada, makanya aku tidak pernah menaruh curiga sedikit pun jika ternyata Kak Deri adalah pria beristri.

Perlahan-lahan ku buka mataku, aku mencoba untuk bangun meski kepala masih sangat terasa berat.

Ibu paruh baya yang ada di dekatku membatuku untuk bangun, terlihat orang-orang tadi masih berkerumun di luar dan beberapa duduk di hadapanku.

Aku melihat sosok kak Deri pun ada di sana, dia terus tertunduk tanpa menoleh sedikit pun ke arahku atau menanyakan keadaanku dan wanita yang sedari tadi menjambak rambutku ternyata adalah istri dari kak Deri.

“Semua harus tenang tidak perlu ada kekerasan, silahkan Nak Deri menjelaskan semua duduk perkaranya agar masalahnya selesai,” kata pak RT.

“Dalam masalah ini, tidak ada yang pantas disalahkan selain aku, dia tidak tahu kalau aku memiliki istri, aku berpura-pura sebagai lelaki yang singgel,” ucap kak Deri.

Setelah berucap, kak Deri menatapku sejenak dan kembali mengalihkan pandangannya.

Istrinya saat itu menangis dan memukul berkali-kali lengan suaminya.

“Maafkan aku, aku yang salah jangan salahkan dia,” sahut kak Deri sambil menenangkan istrinya.

Aku tahu betul bagaimana rasanya di posisi istri kak Deri, aku kasihan dan merasa bersalah meski aku pun menjadi korban kebohongannya. Aku tidak pernah menginginkan berada di posisi saat ini.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk merebut kak Deri. Aku juga tidak tahu kalau kak Deri memiliki istri, mulai hari ini hubungan kami berakhir dan aku pun ingin kembali ke kampung,” ucapku.

Ibu paruh baya yang membantuku sedari tadi, menepuk pundakku dan merangkulku seakan menguatkanku.

Setelah malam itu, aku benar-benar memutuskan untuk kembali ke kampung dan melanjutkan pendidikan di sana. Kak Deri pun kembali ke Istrinya setelah membuat pernyataan untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Sejak saat itu, aku benar-benar putus komunikasi dengan Kak Deri, saya pun berharap untuk tidak dipertemukan kembali.

Tentunya sakit harus merelakan impianku, pendidikanku dan harus menerima perlakuan yang tidak baik hanya karena sosok lelaki yang ku kenal baik ternyata pria beristri.

Namun aku percaya, bahwa impianku masih bisa ku raih di tempat lain.

Satu-satunya di pikiranku saat ini adalah benar-benar lepas dari kak Deri, dan menjauh sejauh mungkin. Semoga aku tidak ditakdirkan kembali bertemu dengan lelaki seperti kak Deri.

Meninggalkan kehidupan perkotaan, dan semua cita-cita yang sempat terangkai indah, harus terkubur karena cinta yang salah.

Jangan salahkan waktu dan keadaan, meski semua tidak berjalan sesuai rencanamu tapi yakinlah akan ada yang lebih indah disiapkan untukmu hanya saja sebelum itu terjadi kamu dilatih terlebih dahulu agar lebih kuat dan sabar. Yakinlah, ada hikmah disetiap kejadian.

  • Bagikan