PRIBUMI.co.id, Romantika – Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan berada di posisi ini, duduk di samping suamiku menjadi saksi pernikahannya.
Beberapa menit lagi acara akan dimulai. Aku melirik suamiku, dia terlihat begitu tegang.
Pernikahan ini adalah permintaanku, bahkan aku pun yang memilihkan istri untuk suamiku.
Ingatanku kembali pada beberapa bulan yang lalu, tepat pertama kali aku bertemu Mita disuatu kajian.
Mita sosok yang sangat lembut dan menyenangkan, dari kajian itu kami semakin akrab dan sering jalan di luar kajian, bercerita banyak hal meski usia kami cukup jauh. Aku sudah menganggap Mita seperti adikku.
Hingga suatu hari Mita mengirimiku pesan singkat.
“Kak, aku harus pulang kampung. Ayahku meninggal dunia,” tulis Mita.
Aku sangat kaget mendengar berita itu. Ayah Mita adalah satu-satunya tulang punggung keluarganya, Mita memilki dua orang adik, sementara ibunya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Beberapa minggu aku terus menelepon nomor Mita, tapi selalu tidak aktif. Aku sangat khawatir dengan keadaannya.
Driiing… bunyi pesan WhatsApp ku
Pesan dari Mita. “Kak, mungkin aku tidak kembali ke Jakarta lagi. Aku harus tetap di sini menjaga dan menemani adik-adikku,”
“Bagaiman dengan kuliahmu, dik?,” balasku.
“Aku sudah memutuskan untuk berhenti, kak. Aekarang aku yang bertanggungjawab untuk adik-adikku. Aku ingin mencari pekerjaan di sini agar adik-adikku tetap bisa sekolah,” timpal dia.
Almarhum ayah Mita adalah seorang buruh pabrik, dan sepeninggal ayahnya Mita harus menggantikan posisi Ayahnya untuk kedua adiknya.
Tidak terasa air mataku mengalir, membaca pesan dari Mita. Aku bisa merasakan berada di posisinya, harus merelakan impian demi impian yang lainnya.
***
Acara belum juga dimulai, sementara waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang, berkali-kali suamiku melirik ke arah jam tangannya. Pengantin wanitanya belum juga keluar.
Aku beranjak menuju kamar pengantin. Pengantin wanita itu adalah Mita orang yang ku anggap sebagai adikku sendiri.
Di Kamar kudapati Mita menangis, setelah melihatku dia beranjak dan memelukku.
“Kak, aku tidak bisa melakukan ini, aku takut tidak mampu menjaga perasaan kakak. Aku takut melukai hati kakak nantinya,” lirih Mita.
Saat itu aku berupaya menenangkan Mita, sembari berucap, “Atas seizin-Nya semua akan baik-baik saja, Mita.”
“Ayo kita keluar acara segera dimulai,” kataku sambil merapikan makeup Mita yang hampir luntur karena air matanya.
Kusaksikan suamiku mengucapkan ijab kabul, semua perasaan bercampur menjadi satu.
Akhirnya Mita dan suamiku resmi menjadi sepasang suami istri. Saat ini, Mita tidak hanya menjadi adik ataupun sahabatku, tapi juga sebagai maduku.
Awalnya suamiki menolak pernikahan ini, saya tahu suamiku menyayangiku dan sangat menjaga perasaanku, tapi bukan tanpa alasan kulakukan ini.
Saya pun sangat menyayangi suamiku, maka karena itu kuizinkan suamiku menikah, berharap kelak dengan seizin Allah, suamiku bisa mendapatkan keturunan yang belum bisa kuberikan dimana usia pernikahan kami sudah menginjak tahun ke-10.
***
Waktu itu langit masih temaram, matahari belum nampak. Aku dan suami bergegas ke bandara ingin menuju kampung halaman Mita.
Aku ingin kesana mengutarakan niat untuk melamarnya untuk suamiku dan juga melihat keadaannya.
Sesampainya di sana, Mita menjamu kami dengan sangat baik.
“Kami ke sini dengan niat baik, Mita. Selain untuk menjenguk kamu dan adik-adikmu, juga ingin melamar kamu,” kataku.
“Melamar? Dengan siapa, kak?,” sahut Mita dengan wajah kaget.
“Dengan Mas Pram, setelah menikah kamu dan adik-adikmu ikut kita ke Jakarta. Kamu tetap bisa melanjutkan kuliah dan adik-adikmu sekolah di Jakarta,” ujarku.
Mita tertunduk dan terdiam saat mendengar ungkapan yang kusampaikan itu.
“Sudah lama saya ingin mas Pram menikah lagi dan berharap mendapatkan anak dari istrinya yang lain dan aku harap itu kamu, Mita. Kamu anak baik dan tulus, mas Pram sudah setuju. Aku harap Mita pun setuju dengan pernikahan ini,” pintaku.
Mita terus tertunduk dan menangis. Meski pertama menolak, namun aku akhirnya berhasil membujuknya. Kuboyong Mita dan adik-adiknya ke Jakarta dan melangsungkan pernikahan di sana.
Terkadang kita harus melepas ego, demi kebahagiaan orang orang terdekat kita.
Melepaskan suami untuk menikah lagi bukanlah perkara mudah itu butuh proses dan kekuatan yang lebih.
Beberapa tahun belakangan, aku mengikuti kajian untuk menguatkan mental, batin juga fisikku kelak jika semua itu terjadi dan Allah mempertemukan aku dengan Mita di tempat kajian yang pada akhirnya menjadi istri kedua suamiku.
Semoga rumah tangga kita diridhoi Allah SWT dan senantiasa diberi kebahagiaan lahir batin.





