Jangan Ada Korupsi di Antara Kita, Taubatnya Susah!

  • Bagikan
Ilustrasi koruptor. (Dok: Ist)

Pribumi.co.id – Taubat bagi pelaku korupsi adalah proses yang sangat penting dan harus dilakukan secara serius serta tulus oleh pelaku korupsi.

Diketahui, taubat adalah salah satu jalan untuk memperbaiki diri dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Taubat juga merupakan bentuk kesadaran dan pengakuan atas kesalahan yang telah dilakukan serta niat untuk tidak mengulangi lagi di masa depan.

“Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan (dosa) dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya” (HR Tirmidzi).

Untuk melakukan taubat, pelaku korupsi harus mengikuti beberapa langkah berikut:

1. Menyesali Perbuatan Korupsi

Menyesali perbuatan korupsi yang telah dilakukan dengan segenap hati.

Pelaku korupsi harus merasa menyesal karena telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan merugikan banyak orang.

2. Berhenti Korupsi 

Menghentikan semua aksi korupsi yang sedang dan akan dilakukan.

Pelaku korupsi harus menghentikan semua aksi korupsi yang sedang dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukan lagi di masa depan.

3. Mengembalikan Hasil Korupsi 

Syarat ke tiga ini cukup berat bagi para koruptor, pasalnya menyerahkan atau mengembalikan harta hasil korupsi adalah sesuatu yang sulit dilakukan.

Bayangkan saja, jika hasil korupsi itu dikembalikan ke negara, maka koruptor bersama keluarganya akan mengalami kemiskinan. Tentu hal itu menjadi ujian tersendiri bagi keluarga mereka.

Pelaku korupsi harus mengembalikan harta yang telah diperoleh secara haram atau tidak sah kepada yang berhak mendapatkannya, merupakan salah satu tahapan taubat yang harus dilakukan.

Jika tidak diketahui siapa yang berhak, maka harta tersebut dapat diserahkan kepada lembaga amil zakat atau disumbangkan untuk kepentingan umum.

“Barangsiapa pernah melakukan tindak kezaliman kepada seseorang, baik dalam urusan harga dirinya, atau hal lainnya, maka segeralah ia meminta untuk dihalalkan, sebelum tiba hari yang tiada lagi dinar atau dirham. Bila hari itu telah tiba maka akan diambilkan dari pahala amal salehnya dan diberikan kepada orang yang ia zalimi sebesar tindak kezalimannya. Dan bila ia tidak memiliki pahala kebaikan, maka akan diambilkan dari dosa-dosa orang yang ia zalimi dan akan dipikulkan kepadanya.” (HR Bukhari).

4. Memohon Ampunan Allah

Pelaku korupsi harus benar-benar bersungguh-sungguh dalam bertobat kepada Allah SWT dan memohon ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara berdoa, beribadah, dan bertaubat secara langsung dengan hati yang tulus.

5. Tidak Mengulangi Perbuatan Korupsi

Setelah melakukan taubat, pelaku korupsi harus menjaga komitmen untuk tidak mengulangi lagi perbuatan korupsi di masa depan.

Ini bisa dilakukan dengan meningkatkan rasa takut kepada Allah dan memperkuat iman serta menjauhi godaan untuk melakukan korupsi.

Dengan melakukan taubat yang tulus dan berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi, pelaku korupsi dapat mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan memperbaiki diri serta mendapatkan kedamaian batin.

Selain itu, taubat juga dapat membantu pelaku korupsi untuk memperbaiki hubungan dengan sesama dan masyarakatnya, serta mendapatkan kembali kepercayaan dari orang lain.

Jika taubat dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, maka pasti Allah SWT akan menerima taubat tersebut dan memberikan ampunan serta rahmat-Nya.

Sekadar diketahui, selain mendapatkan azab di akhirat, para pelaku korupsi itu mengawalinya dengan kehinaan di dunia yang juga dirasakan oleh keluarganya.

Kehinaan tersebut kerap berbentuk rasa malu, penyakit, hingga kematian yang tak wajar.

Selain itu, koruptor ketika masa tuanya umumnya akan mengalami kesusahan yang luar biasa, berupa penyakit, perceraian, atau anak yang terjadi sesuatu musibah.

Oleh karena itu, segeralah bertaubat selagi masih hidup, siksaan menanti di dunia dan di akhirat kelak saat menghadapi peradilan yang sangat berat di hadapan Allah.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada para pelaku korupsi untuk mengambil jalan taubat dan memperbaiki diri demi mencapai ridha-Nya. Aamiin.

Wallahu a’lam bishawab

  • Bagikan