Sesuatu yang tidak pernah ku bayangkan, mendapatkan sosok pendamping yang benar-benar tulus menyayangiku dengan segala kekuranganku, cintanya tak bersyarat hingga menjadikanku wanita paling bahagia dan beruntung.
Setelah pertemuan kembali dengan Arya, kami kembali dekat layaknya seorang sahabat. Kami sering menghabiskan waktu bersama di bawah pohon kenangan kami.
Arya sering bercerita berbagai hal menarik di luar sana, saling curhat dan bahkan aku menceritakan tentang sosok misterius yang selalu mengirimiku pesan.
Arya mengatakan bahwa sosok itu adalah orang yang mungkin berada di sekelilingku.
Entah mengapa aku menaruh curiga bahwa yang mengirimiku pesan adalah Arya, orang yang dekat denganku dan selalu mengetahui aktivitasku.
Setiap hari, entah berapa kali aku menerima pesan dari sosok misteris itu.
Terkadang pesannya berisi kata penyemangat, romantis atau bahkan tentang keseharianku yang seolah-olah ia ada didekatku dan tahu persis apa yang aku lakukan pada saat itu.
Pernah suatu hari, aku menerima pesan dari sosok misterius itu dan bercerita bahwa beberapa hari kedepan mungkin ia akan sibuk dengan suatu kegiatan dan tidak mengirim pesan. Ia berharap selama itu aku harus tetap bahagia.
Anehnya, selama itu pula aku tidak bertemu dengan Arya, ini semakin menguatkan kecurigaanku bahwa Arya adalah sosok misterius itu.
“Assalamualaikum,” sapa kak Damar dari balik pintu. “Waalaikumsalam, kak Damar kemana saja sudah jarang ke rumah?,” kataku dan langsung menyodorkan pertanyaan.
Kak Damar hanya tersenyum hangat sambil memberikan berbagai cemilan.
“Kakak kemana saja akhir akhir ini?,” aku kembali bertanya karena merasa penasaran.
“Kemarin lagi sibuk dengan tugas akhir, doain semoga minggu ini sudah kelar dan memiliki gelar,” jawab kak Damar. “Aamiin,” sahutku dengan kencang.
Entah kenapa setiap berada di dekat kak Damar aku selalu merasa nyaman dan tenang.
Di tengah kesibukannya dengan tugas akhir, kak Damar masih sempat mengunjungiku dan membawakan makanan kesukaanku, meski hanya sebentar karena harus kembali untuk merampungkan tugas akhirnya, katanya ada target yang harus ia kejar.
Sesaat sebelum kak Damar pulang, Arya datang dan sejenak kami bertiga berbincang-bincang.
“Aku pulang dulu, jaga kesehatan yah,” kata kak Damar sambil tersenyum ke arahku.
“Kak Damar, baik yah? Terlihat sangat sayang sama Sendu,” tanya Arya setelah kak Damar menghilang dari balik pintu.
“Ia adalah salah satu orang yang selalu memberiku semangat dan sangat perhatian,” jawabku
Tiba-tiba aku kepikiran untuk menanyakan tentang sosok misterius itu ke Arya, mungkin Arya orang di balik semua pesan misterius itu.
“Waktu itu aku pernah bercerita tentang orang yang selalu mengirimiku pesan misterius. Apakah mungkin orang itu adalah kamu?,” tanyaku pada Arya. Seketika Arya tertawa terbahak-bahak.
“Tidak mungkinlah, kita kan sahabatan, dan tetangga. Untuk apa mengirim pesan, mending langsung di samperin,” jawabnya sambil tertawa.
Aku yang mendengar jawaban itu langsung tertunduk malu karena menganggap sosok itu adalah Arya.
Kalau bukan Arya lantas siapa? tanyaku dalam hati.
24 Juni adalah hari ulang tahunku dan tahun ini ulang tahun ke 23. Aku tidak menyangka hari itu akan menjadi hari yang sangat bersejarah untukku.
Saat perayaan kecil-kecilan, semua keluarga datang termasuk Arya, dan juga kak Damar.
Setelah tiup lilin, tiba-tiba kak Damar meminta izin untuk diberi kesempatan berbicara.
“Selamat ulang tahun Sendu, semoga bahagia dan sehat selalu. Karena ini, hari bahagia Sendu aku ingin mengatakan kalau aku sayang sama Sendu. Maukah sendu menjadi sosok pendampingku dalam suka maupun duka?,” ucap kak Damar di hadapan semua orang.
Tentu saja aku malu dan kaget mendengar pernyataan itu. Semua keluarga sudah merencanakan ini, orangtua, kakak bahkan Arya juga tahu rencana lamaran ini.
“Semua keputusan ada pada kamu, Nak,” ucap ibuku sambil memelukku. Aku mengangangguk, “Iya aku mau,” jawabku sambil tersipu malu.
Ku akui, bahwa selama ini saat berada di dekat kak Damar, irama jantungku seakan berbeda lebih kencang dan tak beraturan, mungkin inilah yang dinamakan cinta yang tak kusadari.
Setelah hari itu, kak Damar akhirnya mengakui bahwa ia adalah sosok di balik pria misterius yang mengirimiku pesan setiap hari.
“Aku adalah orang yang selama ini selalu mengirim pesan pada Sendu,” ucapnya. “Kenapa Kak Damar tidak terus terang, kalau itu kakak?,” tanyaku dengan wajah cemberut.
“Sengaja kakak merahasiakan untuk menunggu hari yang tepat, gelar sarjana di tangan dan pujaan hati pun di pelukan,” jawabnya lagi sambil tersenyum. Dan lagi-lagi senyuman kak Damar terasa hangat.
Mungkin inilah cinta, cinta yang hadir dengan perlahan, mengisi sedikit demi sedikit ruang hampa, dan perlahan-lahan menarik semua energi pada sdbuah titik puncak eforia kebahagiaan
Hari ini adalah hari dimana kami akan terikat pada sebuah janji untuk setia hingga maut memisahkan.
Terima kasih untuk Kak Damar yang dengan tulus mencintai tanpa syarat dengan keadaanku yang perlahan-lahan membaik meski masih menggunkaan kursi roda untuk berjalan.
Kini Sendu tak lagi sendu, Sendu kini menemukan alasan untuk selalu bahagia dan bangkit melawan penyakitnya. Sendu kini menjadi cahaya yang bersinar penuh cinta, cinta yang tulus mencinta tanpa syarat.
Penulis: Azzahra





