Pribumi.co.id, Romantika – Hari ini hujan turun dengan derasnya, sesekali percikannya masuk melalui jendela kamarku.
Sejak berumur 5 tahun, aku tidak dapat berjalan, sudah beberapa dokter kami kunjungi tak juga mengalami perubahan dan kini usiaku 18 tahun.
Usia remaja kulewatkan hanya di atas kursi roda sambil menatap orang yang lalu lalang di balik jendela kamar.
Aku masih ingat jelas, hari ketika pertama kalinya menerima pesan singkat misterius.
“Hai… Apa kabar?,” begitulah isi pesan yang tak ku ketahui pengirimnya.
“Alhamdulillah, baik. Maaf ini dengan siapa?,” balasku.
Namun, tak ada balasan dari si pengirim pesan.
Keesokan harinya, aku kembali menerima pesan dari nomor yang sama. “Hai….”
Namun kuabaikan pesan itu, tak berselang lama kembali terdengar bunyi pesan masuk.
“Bunga di ujung jalan tertunduk lesu, karenamu. Bahkan bulan pun seakan malu, pesonanya kalah karenamu,” begitulah bunyi pesannya.
Kaget bercampur penasaran, sejak belasan tahun aku tidak memiliki teman ataupun sahabat selain keluargaku.
Meski penasaran, kembali kuabaikan pesan itu, pikirku hanyalah orang iseng atau salah alamat.
Aku mengayuh kursi roda ke arah jendela, tempat favoritku melewati hari, menatap dedaunan yang bergoyang tertiup angin, serta burung yang kerap hinggap di pohon pekarangan rumah.
Aku masih ingat, sewaktu kecil aku senang bermain di sana bersama anak tetangga rumah yang sering aku panggil “Arya endut” karena badannya yang tambun.
Namun, sejak berdiam diri di rumah karena sakit, aku tidak lagi pernah bertemu dengannya.
Seperti biasa, setiap pagi aku sudah di jendela kamar bersiap melihat keramaian orang yang ingin memulai harinya beraktivitas.
Di ujung jalan, terlihat seseorang melambaikan tangan ke arahku, dia adalah kak Damar, sahabat kakakku yang kerap datang ke rumah.
Ku balas lambaian tangannya yang kemudian berlalu menjauh.
“Aku adalah pemuja di kejauhan, namun terasa dekat karena sinarmu yang mampu menghangatkan. Bibirmu yang selalu menggores senyum, terasa teduh dan tenang seperti namamu Sendu”
Begitulah pesan terakhir yang ku terima diiringi deraian hujan di akhir bulan November.
Andai aku memiliki tubuh yang sehat, aku pastinya bisa bermain dan melakukan hal-hal yang menyenangkan di luar sana bersama teman-teman lainnya.
Sepintas pikiranku melayang, hingga tersadar bahwa sakit pun adalah nikmat yang harus diterima dengan ikhlas.
“Assalamualaikum,” terdengar seseorang di teras rumah. Kuayungkan kursi roda ke arah orang tersebut, “Waalaikumsalam,” balasku. Ternyata, dia kak Damar sahabat kakakku.
“Silahkan masuk kak, tapi kakakku lagi tidak di rumah cuman ada ibu dan aku,” ucapku sambil mempersilahkan kak Damar masuk.
“Iya tidak apa, boleh saya menunggu di sini,” kata kak Damar.
Kak Damar memiliki postur tubuh yang tinggi, putih, memiliki alis tebal dan hidung mancung mungkin karena dia memiliki darah keturunan Arab. Pantas saja, kakakku selalu bercerita kalau kak Damar salah satu idola di Kampusnya.
Di ruang tengah, aku dan kak Damar bercerita banyak hal tentang kuliahnya, teman-temannya dan kegemarannya mendaki gunung.
“Besok kita ke Bukit dekat Danau, yah?,” pinta Kak Damar. Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Kak Damar mengingat aku tak dapat berjalan.
“Di sana bukitnya landai dan sudah bisa dilalui mobil, pemandangannya sangat indah pasti Sendu suka,” timpal kak Damar yang seakan akan tahu yang ku pikirkan.
“Kita ajak kakak, ibu dan ayah Sendu juga biar ramai,” kak Damar melanjutkan perkataannya sambil tersenyum tipis.
“Boleh, tapi izin dulu ke ibu sama ayah,” jawabku.
Kak Damar memang sudah ku anggap Kakak, karena sudah dekat dengan keluarga dan juga sahabat kakakku.
Setelah beberapa waktu, akhirnya kakakku datang, ku tinggalkan mereka dan aku kembali ke kamar.
***
Hari ini pemandangan sangat sejuk mungkin karena semalam pepohonan diguyur hujan. Aku sangat bersemangat bagun lebih awal untuk bersiap-siap ke danau. Pakaian sudah rapi dan rambutku sengaja kuurai.
Untuk pertama kalinya aku akan menikmati pemandangan bukit di luar sana, mungkin ini alasan aku memakai pakaian terbaikku.
Aku mengayuh kursi roda ke halaman depan rumah menghirup udara segar sambil menunggu yang lain selesai bersiap-siap.
Tiba-tiba seseorang menyapaku, “Hai…,” sapanya.
Aku hanya tersenyum ke arahnya, mungkin karena merasa canggung setelah sekian lama aku tidak pernah bertegur sapa dengan Arya yang sering ku panggil Endut.
“Hai apa kabar? sudah lama kita tidak bertegur sapa, padahal rumah kita sebelahan,” sambung Arya. “Iya, yah,” jawabku singkat.
Terus terang aku masih sedikit shock melihat Arya yang sekarang, badannya tinggi tegap tidak lagi tambun seperti waktu kecil dulu.
“Sendu mau kemana? Kok cantik banget,” tanya Arya sambil tersenyum menggoda. Aku masih ingat senyum itu. Masih sama seperti dulu, hangat.
“Mau ke bukit dekat danau sama ayah dan ibu,” jawabku.
“Setiap pagi aku selalu melihat Sendu di jendela kamar, Sendu selalu terlihat cantik meski dari kejauhan,” sambung Arya lagi.
Namun belum sempat aku bertanya, semua keluarga sudah datang dan bersiap berangkat.
“Aku berangkat dulu,” kataku pada Arya.
“Selamat bersenang-senang di sana dan semoga harinya menyenangkan,” kata Arya sambil melambaikan tangan.
***
Aku sangat menikmati perjalanan menuju bukit, semua terlihat indah. Tiba-tiba aku kembali menerima pesan dari orang misterius itu.
“Aku sangat menunggu hari ini, hari di mana bisa melihatmu tersenyum kembali dengan riang,” begitulah isi pesan yang ku terima.
Karena terlalu bersemangat untuk ke bukit, ku biarkan pesan itu meski sedikit penasaran siapa pengirimnya.
Di atas bukit, Kak Damar sudah menunggu kami, aku benar-benar bahagia melihat pemandangan di sana. Bahkan, hanya melihat dedaunan berjatuhan itu sudah sangat indah, menurutku.
Saat pulang, ku ucapkan terima kasih ke Kak Damar, berkat dia aku bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya.
Senja perlahan beranjak pergi dari peraduannya. Saat pikiranku masih melayang pada keindahan bukit yang kudatangi, tiba-tiba mataku tertuju pada Handphone yang tergeletak di atas kasur.
Aku ingat, saat diperjalanan aku dapat pesan dari orang misterius itu. Ku coba memberanikan diri mengirim pesan dan bertanya, siapa sosok di balik pesan misterius itu.
“Maaf mengganggu, kalau boleh tahu ini dengan siapa?,” pesanku pun terkirim.
“Aku salah satu dari sekian banyak yang ingin berada di sampingmu dan hari ini aku sangat bahagia bisa melihatmu kembali tersenyum,” jawabnya.
Sosok misterius itu membalas pesanku dan mengirim emoticon berbentuk hati. Karena penasaran aku kembali bertanya “Maaf ini dengan siapa?”
“Aku adalah orang yang kau kenal sejak dulu, dan sejak saat itu Sendu selalu menjadi alasanku untuk bangun lebih awal agar bisa melihat Sendu di balik jendela,” balasnya.
Malam semakin larut, namun aku tak dapat tidur karena ‘dihantui’ rasa penasaran sosok misterius itu.
“Mungkinkah Arya teman kecilku?,” bisikku dalam hati. “Ah… itu tidak mungkin,” aku bergumam sendiri.
Ku coba memejamkan mata agar bisa terlelap tidur dan kualihkan pikiranku pada keindahan bukit, berharap bisa kembali kesana.
Terima kasih untuk hari ini,
Aku merasa sempurna dari ketidak sempurnaanku,
Dikelilingi orang orang baik yang menyayangiku
Adalah hadiah terindah dari-Nya
Yang tidak bisa dibeli dengan apapun
Trima kasih, wahai pemilik segala-Nya
Penulis: Azzahra





