Hijrah Andriani: Ketika Kemanusiaan Tetap Menyala di Tengah Badai Hujatan

  • Bagikan

Pribumi.co.id | Bima, NTB — Di tengah riuh spekulasi, prasangka, dan gelombang hujatan yang membanjiri ruang publik pasca hilangnya Kifen di Gunung Sangiang Api, sebuah suara sunyi tentang kemanusiaan justru hadir tanpa kegaduhan. Suara itu datang dari langkah sederhana namun bermakna yang diambil Hijrah Andriani.

Perempuan pekerja keras dengan hati yang lembut ini memilih berdiri di jalur yang kerap sepi: membantu tanpa menghakimi, peduli tanpa menuding. Saat sebagian orang larut dalam perdebatan dan saling menyalahkan, Hijrah mengambil keputusan yang berangkat dari empati—mengulurkan tangan kepada sesama yang tengah terhimpit situasi.

Nama Hijrah Andriani kemudian menjadi sorotan masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, setelah ia membuka donasi kemanusiaan bagi Meri, salah satu pihak yang ikut terseret dalam pusaran opini publik menyusul peristiwa di Gunung Sangiang Api. Dalam suasana yang panas dan penuh kecurigaan, langkah Hijrah tampil sebagai penyejuk—mengingatkan bahwa di balik setiap peristiwa, ada manusia yang juga merasakan takut, tertekan, dan terluka.

Dari donasi yang dihimpun secara terbuka, Hijrah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp12 juta. Seluruh dana tersebut disalurkan langsung ke rekening istri Meri, tanpa potongan apa pun. Tak berhenti di situ, Hijrah juga membelikan sebuah telepon genggam untuk Meri, agar ia tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga dan pihak terkait di tengah situasi yang serba sulit.

Diketahui, Meri merupakan anak yatim piatu yang ikut dalam rombongan berburu di Gunung Sangiang Api. Perjalanan itu kemudian berubah menjadi tragedi ketika salah seorang rekan mereka, Kifen, dinyatakan hilang. Sejak saat itu, Meri dan sejumlah pihak lain menjadi sasaran sorotan tajam publik—bahkan tak jarang menerima hujatan yang melampaui batas empati dan rasa kemanusiaan.

Aksi Hijrah Andriani pun menuai simpati luas. Banyak masyarakat memuji keberaniannya mengambil sikap di tengah suasana yang sensitif dan penuh tekanan. Namun, pro dan kontra tetap tak terhindarkan. Bagi Hijrah, perbedaan pandangan adalah hal biasa. Yang terpenting, menurutnya, adalah memastikan nilai kemanusiaan tidak ikut hilang di tengah tragedi.

“Bagi saya, kemanusiaan jauh lebih penting. Soal hukum dan kebenaran peristiwa, itu sepenuhnya menjadi kewenangan pihak berwajib,” ujar Hijrah dengan nada tenang, Rabu (31/12/2025).

Langkah Hijrah Andriani menjadi pengingat bahwa empati tidak boleh tunduk pada amarah kolektif. Bahwa membantu sesama tidak harus menunggu segalanya terang benderang. Dan bahwa di tengah kebisingan opini serta luka sebuah peristiwa, kemanusiaan seharusnya tetap berdiri—menyala, meski perlahan.

  • Bagikan