Pribumi. co. id Bima NTB — Gunung Sangiang, yang selama ini dikenal sunyi dan liar, kini menjadi ruang duka sekaligus tanda tanya. Selama 13 hari terakhir, keluarga dan warga Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, menanti kabar tentang Kiven, pemuda setempat yang tak pernah kembali setelah pergi berburu.
Upaya pencarian di kawasan hutan tak membuahkan hasil. Seiring waktu, harapan keluarga perlahan bergeser ke ranah penyelidikan. Kepolisian mulai mendalami kemungkinan adanya peristiwa hukum di balik hilangnya Kiven.
Polres Bima Kota telah mengamankan dua orang rekan korban untuk dimintai keterangan. Salah satunya didalami secara intensif terkait dugaan insiden senjata api saat kegiatan berburu di kawasan Gunung Sangiang.
Kapolres Bima Kota melalui Kasi Humas Polres Bima Kota, IPDA Baiq Fitria Ningsih, membenarkan langkah tersebut. Menurut dia, keduanya diamankan sejak Kamis malam dan saat ini berada di Mapolres Bima Kota.
“Iya, dua orang kami amankan untuk dimintai keterangan. Ini juga bagian dari upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif,” kata IPDA Baiq, Jumat (26/12/2025).
Dugaan Insiden Saat Berburu
Informasi yang berkembang di tengah masyarakat—dan kini tengah diverifikasi penyidik—menyebutkan bahwa Kiven terakhir kali terlihat pergi berburu bersama seorang rekannya berinisial A. Keduanya menuju Gunung Sangiang dengan membawa peralatan berburu, termasuk senjata api rakitan yang disebut berada dalam penguasaan A.
Dalam kronologi awal yang didalami kepolisian, peristiwa diduga terjadi saat perburuan rusa. Senjata api rakitan tersebut disebut meletus dan pelurunya mengenai tubuh Kiven. Dugaan sementara menyebutkan insiden itu terjadi tanpa unsur kesengajaan, namun berakibat fatal.
Namun polisi menegaskan, seluruh informasi tersebut masih bersifat awal dan belum dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan saksi, penelusuran lokasi, serta penguatan alat bukti dilakukan secara menyeluruh.
Dugaan Penghilangan Jejak
Penyelidikan kian serius setelah muncul keterangan yang mengarah pada dugaan upaya menutupi peristiwa tersebut. Sejumlah informasi menyebut adanya dugaan penghilangan jejak, termasuk kemungkinan penguburan korban di sekitar lokasi kejadian serta hilangnya senjata api rakitan.
Kepolisian belum memastikan kebenaran informasi tersebut. Meski demikian, penyidik membuka kemungkinan adanya pelanggaran hukum lain, termasuk kepemilikan senjata api ilegal.
“Penanganan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Kami belum bisa menyimpulkan apa pun sebelum seluruh fakta terkumpul,” ujar IPDA Baiq.
Ia menambahkan, kepolisian terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, dan keluarga korban guna menggali informasi secara utuh sekaligus mencegah berkembangnya spekulasi yang tidak bertanggung jawab.
Imbauan Kepolisian
Hilangnya Kiven dan beragam cerita yang menyertainya sempat memicu keresahan di tengah masyarakat Wera dan sekitarnya, terutama akibat informasi yang beredar di media sosial dan pesan berantai.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” kata IPDA Baiq.
Hingga berita ini diturunkan, Polisi masih menelusuri sejumlah titik yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut, mendalami peran masing-masing pihak, serta memastikan ada tidaknya unsur pidana.
Di tengah sunyinya Gunung Sangiang, keluarga Kiven masih menunggu kepastian—di antara harap dan cemas. Aparat meminta publik bersabar menanti hasil penyelidikan resmi, sembari memastikan situasi keamanan di wilayah Wera dan sekitarnya tetap aman dan terkendali.







