Pribumi.co.id, PINRANG – Suasana pagi di Desa Kaseralau, Pinrang, Sulawesi Selatan, menjadi saksi bisu dari tragedi keluarga yang menggegerkan.
Seorang pria berinisial AS (29) mengakhiri hidup sang tanten, N (45), dengan cara yang mengerikan, menggunakan parang hingga tewas di rumah mereka sendiri.
Motif di balik perbuatan mengerikan ini ternyata bermula dari rasa kesal yang terpendam dalam diri pelaku terhadap perilaku sang korban.
“Motif pelaku katanya karena jengkel dan itu sudah lama katanya,” ungkap Kasat Reskrim Polres Pinrang, Iptu Andi Reza Pahlawan, dalam wawancara dengan wartawan, Rabu (24/7).
Kejadian tragis ini terjadi pada Rabu pagi, tepatnya pukul 07.00 Wita, ketika AS tiba-tiba menyerang tantenya yang sedang makan di rumah mereka.
Kepada wartawan, Reza menjelaskan bahwa AS langsung masuk ke rumah korban dan tanpa kata-kata menusuknya dengan parang, menyebabkan korban meninggal di tempat kejadian perkara.
Meskipun Reza tidak merinci perilaku korban yang memicu kemarahan AS, namun kejengkelan yang terpendam itu akhirnya meledak dalam sebuah aksi pembunuhan yang mengerikan.
“Ini kan masih pemeriksaan. Selanjutnya kami akan dalami jengkelnya itu bagaimana sebenarnya,” lanjut Reza, mengisyaratkan bahwa polisi masih mendalami motif sebenarnya di balik tindakan brutal ini.
Reza juga menambahkan bahwa AS telah merencanakan pembunuhan ini dalam waktu yang cukup lama, tetapi baru memiliki kesempatan untuk melaksanakannya saat situasinya mendukung.
“Pelaku bilang dari dulu. Baru bisa melaksanakan aksinya hari ini. Sudah lama dia rencanakan (membunuh korban),” terangnya.
Kejadian ini menggambarkan betapa kompleksnya hubungan dalam sebuah keluarga.
Meskipun AS dan N memiliki ikatan keluarga sebagai ponakan dan tantenya, namun sebuah ketegangan yang mendalam mendorong AS untuk melangkah ke tindakan yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Setelah melancarkan aksi kejahatannya, AS sempat melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor. Namun, berkat upaya cepat dari polisi, pelaku berhasil ditangkap tidak lama setelah kejadian tragis tersebut.
“Sempat melarikan diri saat melakukan aksinya pakai motor dan anggota Polsek dan Polres mengejar pelaku. Anggota tunggu di jalan dan langsung diamankan,” papar Reza.
Saat diinterogasi, AS mengakui perbuatannya tanpa penyesalan.
“Dari tingkah laku menjengkelkan. Sudah lama sekali,” kata AS, menggambarkan betapa teramatnya rasa kesal yang memicu tindakannya.
Kisah tragis ini tidak hanya merenggut nyawa seorang wanita, tetapi juga mencuatkan masalah yang lebih dalam tentang konflik dalam keluarga yang mungkin terabaikan.
Sebuah peringatan bahwa ketegangan yang tidak teratasi dengan baik dapat berakhir dengan akibat yang sangat merugikan bagi semua pihak yang terlibat.








