Melukis Senja

  • Bagikan
Melukis Senja

Pribumi.co.id, Romantika – Sebuah rindu yang hanya bisa digapai melalui doa, hanya bisa meraba dalam kenangan setiap sunyum yang selalu membayang. Melukis Senja meski hadirnya sesaat namun menyimpan kenangan yang selalu dinanti.

Hari itu genap 5 tahun usia pernikahan kami dan mendapat kabar yang selama ini kami tunggu-tunggu. Dokter mengatakan istriku tengah hamil 1 bulan. Sontak kupeluk erat istriku dan menagis terharu.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, dia selalu meminta dikecup keningnya dan selalu memelukku erat seakan tak ingin melepaskanku. Pikirku mungkin hanya bawaan hamil, sehingga ia bersikap manja.

Istriku wanita mandiri, dia tidak suka merepotkan orang lain meski dengan ku. Ia bukan wanita yang cengeng namun saat mengandung anak kami, dia sangat manja dan selalu minta diperhatikan.

Pernah suatu hari saat aku di kantor. Ia memintaku untuk pulang, hanya sekadar ingin aku menemani di sampingnya.

Ku dengar suaranya yang parau dan terisak lewat telepon, “Pa, pulang sekarang. Aku mau Papa ada disini,” kata istriku.

“Nanti, lagi sibuk. Sudah yah, nanti aku telpon balik, Assalamualaikum,” jawabku.

Samar-samar ku dengar istriku menjawab salamku.

Aku benar-benar sibuk dengan laporan akhir tahun yang sudah deadline. Sehingga aku tidak bisa menuruti permintaanya saat itu.

Sepulang kerja, ku pikir istriku akan marah, namun ku dapati ia di balik pintu menyambutku dengan penuh hangat dan senyum manisnya.

***

Saat ia memasuki usia kandungan 5 bulan, dia mengalami pendarahan, kami bergegas ke rumah sakit untuk memeriksakannya dan Alhamdulillah istri dan anak dalam kandungannya selamat.

Saat itu, dokter menyarankan untuk istirahat yang banyak dan tidak boleh banyak pikiran.

Pernah suatu malam, kudapati istriku salat malam sambil terisak dalam doa. Selepas salat aku menghampirinya

“Ma, tadi kenapa menangis saat berdoa?,” tanyaku.

“Aku hanya takut ketika meninggal kelak, belum cukup bekal amalku untuk berjumpa dengan-Nya,” jawabnya sambil berkaca-kaca.

“Husst… jangan bicara seperti itu seakan-akan sudah mau meninggal,” sambungku.

“Ajal tak ada yang tahu, Pa’. Besok atau lusa atau hari ini,” jawabnya lagi.

“Kamu Istri yang baik, Ma. Insyaallah kamu akan mendapatkan tempat terbaik-Nya kelak,” kataku sambil tersenyum ke arahnya.

Tidak bisa ku banyangkan, aku hidup tanpa istriku. “Ya Allah, jagalah Istriku dan anakku dalam kandungannya,” doaku dalam hati.

Aku masih ingat, awal Januari, istriku ingin melihat senja. Kami pun ke pinggir pantai sambil menikmati senja. Aku melihat guratan senyum yang terpancar di wajahnya, sangat bahagia. Aku menatapnya dalam-dalam, ia terlihat sangat cantik tersenyum lepas.

Senjaku memang sangat menyukai senja

Aku pernah menaruh luka di hatinya, saat tak disengaja bertemu teman lama yang pernah dekat denganku semasa kuliah. Dia wanita yang hampir ku nikahi tapi tak mendapat restu dari orangtua wanita itu.

Kami sempat makan dan jalan meski hanya sekali, jadi pikirku tak perlu mengatakan pada istriku. Ternyata ia mendapati percakapan kami lewat messenger. Tentu saja ia menangis merasa dikhianati olehku.

Aku sangat merasa bersalah, menoreh luka pada Senja, meski kami sudah menjadi teman biasa tapi tetap saja aku mengecewakan istriku dan aku patahkan kepercayaannya.

Berhari-hari istriku hanya diam, sampai akhirnya aku tidak tahan dengan keadaan ini, aku merindukan istriku yang riang dan selalu tersenyum.

Ku peluk ia, dan meminta maaf untuk tidak mengulanginya lagi.

Senjaku, selalu luluh dengan pelukanku. Senjaku, tak pernah menyimpan dendam meski hatinya pernah ku patahkan.

***

Memasuki usia kandungan ke-9 bulan, istriku pendarahan hebat. Aku melarikannya ke rumah sakit terdekat dan dokter menyarankan untuk di SC.

Sebelum menjalani operasi, istriku meminta maaf padaku, memelukku erat, dia berbisik di telingaku.

“Aku mencintaimu karena Allah, maafkan aku jika ada salah, doakan aku, Pa,” bisiknya.

Air matanya menetes di pelupuk matanya, ku kecup keningnya dan ku peluk tubuhnya sangat erat.

“Aku pun mencintaimu karena Allah,” bisikku.

Dan ternyata, itu adalah percakapan kami terakhir kalinya.

Genggaman tangan kami terlepas, tangannya lemah dan istriku tidak sadarkan diri.

Aku panik, suster menyuruhku menunggu di luar, tentu saja aku menolak, tapi suster tetap memaksaku keluar.

Beberapa menit kemudian, tim dokter keluar dengan wajah sedih. mengabarkan, istri dan anak ku tidak dapat diselamatkan akibat pendarahan hebat.

Penglihatanku gelap, duniaku hancur. Lututku tidak mampu menopang tubuhku untuk beranjak menemui istriku, aku tersungkur dan menangis

“Tidak, ini hanyalah mimpi,” bisikku dalam hati.

Terlihat samar-samar keluarga memasuki ruangan satu persatu, dan yang lain memapahku menemui istriku.

Ku peluk tubuhnya yang kaku, wajahnya yang tersenyum seakan dia hanya tertidur, sangat cantik.

“Senja bangun,” aku memanggilnya, berharap ia mendengarku dan terbangun. Tentu saja, itu sia-sia, Allah lebih menyayanginya.

Ternyata inilah alasan istriku selalu bermanja-manja, dan setiap sepertiga malam selalu menangis dalam doa. Mungkinkah ia telah mendapat firasat untuk meninggalkanku selama-lamanya…

Ku tatap nisan istri dan anakku yang kuberi nama Khumairoh.

“Tunggu aku di sana para bidadariku, aku pun akan kembali dan menuju tempat dimana kalian berada,” bisikku dalam hati.

Tak ada kata yang dapat melukis sedih, Senja akan selalu indah, Senja akan selalu hadir menemani hari hariku meski hanya dalam kenangan.

Aku melukis Senja, di langit sore. Menunggu senja berikutnya untuk menemui Senja…

Yah, hanya pada Senja aku dapat melukis rindu dan menemui rindu.

Senjaku…

Tenanglah disana bersama bidadari kecil kita.

Aku merindukanmu, Senja.

Penulis: Azzahra

  • Bagikan