PRIBUMI.co.id, Romantika – Cinta terkadang membuat kita buta dan terlena, sehingga melupakan unsur-unsur pendukung lainnya. Bahkan, lupa akan pentingnya keluarga dan dukungan mereka.
Kisahku bermula, saat aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saat itu di sekolahku kedatangan tamu mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari salah satu perguruan tinggi yang cukup ternama, untuk sosialisasi. Di situlah aku mengenal sosok yang sering saya panggil Kak Ardi.
Kak Ardi adalah pria dewasa yang kukenal sangat baik juga penyayang, perkenalan kami di sekolah itu berlanjut hingga menjalin sebuah hubungan ‘terlarang’.
Setiap hari, sepulang sekolah, kami sempatkan bertemu dan pastinya di luar sepengetahuan kedua orangtuaku.
Cinta itu indah dan menyenangkan, begitulah aku menafsirkan rasa kala itu. Setelah menyembunyikan hubunganku, akhirnya kedua orangtuaku pun tahu, namun mereka sangat menentang hubungan kami.
Aku pun menyampaikan ini ke Kak Ardi, karena tugas KKN-nya hampir selesai, dia pun mengajakku untuk ikut dengannya (silariang) lantaran orangtuaku menentang hubungan kami.
Bodohnya aku, ku iyakan ajakannya. Hanya berbekal seragam sekolah yang melekat di badan dan bermodalkan cinta, aku pun menuruti pintanya.
Sepulang sekolah, kami berangkat ke kota tempat ia kuliah. Semua alat komunikasi aku matikan agar keluarga tak menghubungiku.
Saat itu, rasanya dunia hanya milik kami berdua, kak Ardi sangat perhatian dan sangat menyayangiku hingga aku benar-benar lupa dengan keluarga yang aku tinggalkan. Tidak sedikitpun aku peduli dengan cemasnya orangtuaku mencari yang tak ada kabar sama sekali dariku.
Setelah dua minggu kami bersama, Ayahku akhirnya berhasil menemukanku dengan bantuan Polisi berbekal laporan orang hilang. Tentu saja, Kak Ardi digiring ke kantor polisi.
Dengan perbincangan yang sangat alot antara keluarga kak Ardi dan keluargaku, akhirnya mereka sepakat berdamai dan menikahkan kami.
Ku jemput kebahagiaanku dengan pernikahan yang kupikir aku sangat beruntung mendapatkan pria yang menyayangiku, namun ternyata berbanding terbalik.
Kak Ardi tidak lagi peduli dan selembut dulu, dia suka mabuk-mabukan dan main tangan. Setiap ada yang dia permasalahkan, pasti tangan dan kakinya melayang ke tubuhku.
Pernikahan dini memanglah tidak mudah, aku sangat menyesal menjalin hubungan terlarang di usia belia, aku merusak masa depanku sendiri, merusak kepercayaan orangtua dan keluargaku.
Akhirnya, akupun menanggung semua itu dengan menjadi janda di usia yang masih muda.
Saat itu, aku memutuskan untuk berpisah setelah sekian lama tidak dinafkahi dan mendapatkan perlakuan kasar setiap harinya.
Selain itu, ijazah SMA pun tak kudapatkan dan saat ini aku hanya bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan untuk menyambung hidup dan tidak membebani keluargaku.
Dengan statusku saat ini, tentu tak jarang mendapatkan cibiran di masyarakat dan inilah resiko yang harus ku terima. Menjadi janda di usia belia tanpa ijazah di tangan.
Menganggap cinta itu indah malah hanya merusak semua impianku.
Aku terlalu mengabaikan logika, hingga perasaan merajai seluruh indera.
Aku buta pada kenyataan, Aku tuli pada bisik-bisik kebenarananya getir.
Kau pernah membawaku pada sebuah titik, dan mengikatku hingga tak berkutik.
Lalu, kau biarkan segerombolan burung-burung pemakan bangkai, menghabisi harapanku yang abai.
Pesan moral
Pergunakan masa muda dengan hal-hal yang positif, kejarlah cita-cita dan banggakan keluarga.
Tak ada yang bisa didapatkan dengan pergaulan yang salah selain penyesalan dan tentunya sanksi sosial dari masyarakat.





