Pribumi.co.id, Jakarta – Memasuki semester pertama pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto dihadapkan pada tuntutan untuk menunjukkan kemandirian politik.
Kritik itu datang dari para pengamat, yang menilai Prabowo belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang pendahulunya, Joko Widodo.
Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, menyampaikan pernyataan yang menyengat, dia menilai Prabowo belum percaya diri menyusun kabinetnya sendiri.
“Padahal seharusnya Prabowo sudah harus bisa percaya diri untuk susun kabinetnya secara mandiri tanpa digandoli Jokowi,” ujar Muslim dikutip Pribumi dari RMOL, Jumat (4/4/2025).
Muslim menilai, enam bulan adalah waktu yang cukup bagi Prabowo untuk menentukan arah dan komposisi pemerintahan versi dirinya sendiri.
Tapi yang terjadi, menurutnya, justru kebijakan dan wajah-wajah kabinet masih memperlihatkan jejak kuat Presiden ke-7.
“Kalau Prabowo tidak mengubah sikap politik terhadap Jokowi, sulit rasanya bisa menyusun kabinet secara mandiri,” katanya.
Desakan agar Prabowo membuktikan kemandirian politiknya bukan hanya soal gengsi kekuasaan, tapi juga soal arah pemerintahan ke depan.
“Dan seharusnya Prabowo sudah harus buktikan itu. Sekali lagi, jangan lagi di bawah bayangan Jokowi,” tandas Muslim.
Sejak dilantik pada Oktober 2024, sorotan terhadap harmoni—atau tarik-ulur—antara Prabowo dan Jokowi menjadi narasi yang mengiringi langkah awal pemerintahannya.
Dalam kabinet yang disebut-sebut sebagai “kabinet transisi”, sejumlah nama lama masih bercokol, sementara janji perubahan masih menunggu realisasi.








