Kisah Aku dan Pria Kecil Bernama Sama, Endingnya Bikin Baper!

  • Bagikan
Ilustrasi Kisah Aku dan Pria Kecil Bernama Sama. (Dok: Ist)

Pribumi.co.id, Romantika –  Malam itu, mataku tiba-tiba tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang tampak menunggu di depan sebuah mobil Toyota Rush yang terparkir di halaman minimarket.

Wajah pria kecil itu mengingatkanku dengan Fatimah, gadis yang pernah mengisi hari-hariku. Aku pun menghampirinya.

“Hai anak ganteng, kok kamu di sini sendiri,” tanyaku.

“Nunggu mama, om” jawab anak itu.

“Mamanya di mana?” kataku.

“Di sana, lagi beli cemilan,” ungkap anak itu sembari menunjuk ke dalam minimarket tersebut.

“Kok nggak ikut? anak kecil bahaya loh kalau sendirian di tempat umum,” imbuhku.

“Mama bilang cuma sebentar kok,” timpal dia.

“Om temani sampai mama kamu datang yah, mau?” kataku sambil menawarkan diri menemani anak laki-laki itu.

“Boleh, om” jawab anak itu.

Setelah itu, aku pun berupaya mengetahui identitas anak ini, pasalnya wajahnya begitu mirip dengan Fatimah, wanita yang pernah mengisi relung hatiku.

“Kami ganteng sekali, nama kamu siapa?” tanyaku.

“Arya, om” jawab dia.

“Oh ya, kok bisa nama kita sama yah?” ujarku.

“Nama om juga Arya?” tanya pria kecil itu.

“Iya, jangan-jangan nama belakang kita juga sama,” jawabku.

“Namaku Arya Arfa,” ungkap anak itu.

“Arfa…???,” kejutku.

“Iya. Om namanya Arya Arfa juga yah?” tanya pria kecil itu dengan penasaran.

“Kenapa nama belakang itu tidak asing di telingaku,” bisik dalam hatiku.

“Oh… Bukan, ternyata cuma nama depan kita saja yang kebetulan sama,” ujarku.

“Iya, om” ucap anak itu sambil tersenyum.

Ilustrasi sepasang kekasih. (Dok: Ist)

“Mana mama kamu, kok nggak datang-datang,” tanyaku ke anak itu sembari melihat ke dalam minimarket.

“Tidak tahu, om. Tapi, kalau om mau pergi nggak apa-apa kok. Aku berani di sini sendiri,” tutur anak kecil itu.

“Enggak deh. Om temani. Kasihan kamu. Om juga nggak lagi buru-buru kok,” kataku.

“Eh… Itu mama!” ucap anak itu sembari menunjuk ibunya yang sedang keluar dari minimarket.

“Yang mana mama kamu?” tanyaku.

“Itu loh om yang baju pink,” jawab dia.

“Baju pink yang keluar dari pintu minimarket itu,” timpalku.

“Iya, aku panggil ya om,” pintanya.

“Ma… Sini!,” seru anak itu.

“Emmm… Mama kamu sudah mau ke sini. Om pergi dulu yah” kataku sambil beranjak dari anak itu.

“Sebentar, Om aku kenalin mamaku dulu,” pinta anak itu sambil memegang tanganku.

“Lain kali aja yah!” ucapku.

“Tapi om…?!” kata anak itu sembari berupaya menahanku beranjak dari tempatnya.

“Maaf yah, om harus pergi,” imbuhku sembari membujuk anak itu.

Aku pun bergegas pergi menjauh, hatiku  begitu kalut. Ternyata, betul firasatku, anak itu merupakan putra Fatimah.

“Fatimah, ternyata kau memberi namaku pada putramu, dan kata belakangnya adalah gabungan namaku dan namamu yang dahulu pernah direncanakan akan disematkan pada buah hati kita. Yaa Arfa, Arya dan Fatimah.” gumamku.

“Ternyata kau tetap menggunakan nama itu, meski putramu terlahir dari benih pria lain. Mengapa Fatimah?” tanyaku dalam hati sembari melangkah dengan tergesa-gesa. (Pribumi.co.id)

  • Bagikan