Pendidikan KOHATI Pangkep: Menyemai Militansi Intelektual Kader Perempuan HMI

  • Bagikan

Pribumi.co.id Pangkep — Delapan hari bukan sekadar rentang waktu, melainkan proses pembentukan kesadaran. Pendidikan keperempuanan yang digelar Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wati (KOHATI) HMI Cabang Pangkep pada 10–17 Januari 2026 menjadi ruang kaderisasi yang tidak hanya mentransfer materi, tetapi menanamkan nilai, keberanian berpikir, dan komitmen perjuangan kader perempuan HMI.

Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks mulai dari ketimpangan gender, kekerasan terhadap perempuan, hingga minimnya representasi politik pendidikan ini hadir sebagai jawaban ideologis KOHATI Pangkep untuk menyiapkan HMI-Wati yang sadar peran, tajam analisis, dan siap bertindak.

Kegiatan ini diikuti kader KOHATI dari berbagai cabang: Gowa Raya, Makassar Timur, Bone, Kendari, Pinrang, Mamuju Tengah, hingga Palu. Kehadiran lintas cabang tersebut bukan sekadar angka partisipasi, melainkan simbol kepercayaan dan kebutuhan akan ruang kaderisasi keperempuanan yang serius, disiplin, dan berorientasi pada perubahan.

Mengusung tema “Meningkatkan Kualitas dan Peranan HMI-Wati dalam Berjuang Mencapai Tujuan HMI pada Umumnya dan Keperempuanan pada Khususnya,” pendidikan ini dirancang sebagai proses penguatan tiga pilar utama kaderisasi: intelektual, ideologis, dan praksis. Kader tidak hanya diajak memahami realitas, tetapi juga menafsirkan, mengkritik, dan menyiapkan langkah transformasi sosial.

Ketua KOHATI HMI Cabang Pangkep, Arni, menegaskan bahwa pendidikan ini sengaja dibangun jauh dari sekadar seremonial.

“Kami ingin melahirkan kader yang sadar bahwa menjadi HMI-Wati adalah pilihan ideologis. Bukan hanya aktif di organisasi, tetapi siap mengambil peran strategis dalam isu keumatan dan kebangsaan,” ujarnya pada senin ( 19/1/2026).

Pendidikan ini mengacu pada Pedoman Dasar KOHATI (PDK) dengan 14 materi wajib, mulai dari perspektif keislaman, kesehatan reproduksi, pengarusutamaan gender, kepemimpinan perempuan, hingga penguatan komunikasi publik. Dua materi suplemen strategi advokasi anti kekerasan terhadap perempuan dan analisis peran perempuan dalam representasi politik Indonesia menjadi penegasan bahwa KOHATI tidak berhenti pada wacana, tetapi berpihak pada praksis perjuangan.

Koordinator Steering, Iin Afliani, menyebut dinamika kelas berlangsung hidup, kritis, dan menantang.

“Perbedaan latar belakang cabang justru memantik dialektika. Kader dipaksa keluar dari zona nyaman, berani berbeda pendapat, dan bertanggung jawab atas gagasan yang ia sampaikan,” katanya.

Sementara itu, Ketua HMI Cabang Pangkep, Fadli Muhammad, menilai pendidikan ini sebagai investasi jangka panjang organisasi.

“HMI tidak akan pernah besar tanpa kader perempuan yang kuat secara ideologis dan intelektual. KOHATI adalah tulang punggung kaderisasi HMI, dan pendidikan ini membuktikan bahwa KOHATI Pangkep serius menjaga kualitas itu,” tegasnya.

Menurut Fadli, di tengah krisis keteladanan dan pragmatisme gerakan, pendidikan keperempuanan yang berakar pada nilai, analisis sosial, dan keberpihakan pada isu perempuan menjadi kebutuhan mendesak.

Lebih dari sekadar agenda rutin, pendidikan keperempuanan KOHATI Pangkep adalah proses penyemaian kader perempuan HMI yang berani berpikir, berani bersikap, dan berani bertanggung jawab atas sejarah zamannya. Dari ruang kelas hingga realitas sosial, kaderisasi semacam inilah yang menjaga HMI tetap hidup dan KOHATI tetap menjadi denyut perubahan.

  • Bagikan