Pribumi.co.id, Makassar – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar, memutus kontrak kerja sekitar 400 pegawainya. Jumlah ini melonjak signifikan dibandingkan sebelumnya yang hanya 164 orang.
Kepala Bagian Humas PDAM Makassar, Fazad Azizah, mengatakan keputusan ini merupakan bagian dari langkah efisiensi yang didorong pemerintah, seiring dengan beban belanja pegawai yang kini telah melebihi batas ideal.
“Sekitar 400 pegawai diberhentikan secara permanen,” kata Fazad saat dikonfirmasi, Senin (12/5/2025).
Dia menjelaskan, beban belanja pegawai PDAM Makassar saat ini sudah melampaui 30 persen dari total anggaran perusahaan.
Kondisi ini mendorong manajemen mengambil kebijakan efisiensi, termasuk melalui pengurangan jumlah pegawai kontrak.
“Karena memang belanja pegawai sudah melebihi dari 30 persen. Yang kedua, karena kita mengefisiensikan anggaran. Sesuai juga dengan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Meski terjadi pengurangan pegawai dalam jumlah besar, Fazad memastikan layanan distribusi air bersih kepada masyarakat tidak akan terganggu. Ia menyebut operasional perusahaan tetap berjalan normal.
“Tidak ada dampaknya, pelayanan tetap berjalan seperti biasa,” tegas dia.
Proses pemberhentian para pegawai tersebut, lanjut Fazad, saat ini masih dalam tahap finalisasi. Bagian Kepegawaian PDAM tengah menyiapkan surat keputusan (SK) resmi untuk masing-masing pegawai.
“Masih sementara digodok istilahnya. Bagian personal (kepegawaian) sedang memproses secara teknis,” katanya.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Utama PDAM Makassar, Hamzah Ahmad, mengungkapkan bahwa pemutusan kontrak terhadap 164 pegawai yang masa kerjanya habis pada Mei 2025 merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh perusahaan.
“Evaluasi ini bukan pemutusan kerja sepihak, melainkan evaluasi berdasarkan kinerja, komitmen, dan kebutuhan perusahaan,” ujar Hamzah dalam keterangannya, Minggu (4/5/2025).
Langkah efisiensi ini menjadi salah satu upaya PDAM Makassar untuk menyeimbangkan struktur organisasi dan keuangan perusahaan di tengah berbagai tantangan operasional yang dihadapi. (*)








