Klarifikasi Isu Surat Permohonan Pindah, Kepala SMAN 1 Makassar Janji Pemulihan Hak Siswa

  • Bagikan
UPT SMAN 1 Makassar. (Foto: Ist)

Pribumi.co.id, Makassar – Kepala UPT SMAN 1 Makassar, Drs H Solihin Mustafa, memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya surat permohonan pindah yang disebut-sebut dikeluarkan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan.

Isu ini sempat menyita perhatian publik setelah dikaitkan dengan tekanan psikologis yang dialami sejumlah siswa, hingga menyebabkan dua di antaranya pindah sekolah.

Klarifikasi disampaikan Solihin pada Senin (5/5/2025), di ruang kepala sekolah, didampingi oleh pemerhati pendidikan Muslimin Yunus dan pemerhati sosial kemasyarakatan M Jufri.

“Saya tidak pernah mendapat laporan resmi terkait surat permohonan pindah tersebut sebelum ini ramai diberitakan. Saya sangat menyesalkan jika hal ini telah menyebabkan tekanan psikologis, apalagi sampai menyebabkan dua siswa diduga pindah sekolah. Saya menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi,” ujar Solihin kepada wartawan.

Isu ini mencuat setelah beredar kabar bahwa sejumlah siswa menerima surat permohonan pindah dari pihak sekolah. Surat tersebut diduga berdampak pada kondisi mental siswa, hingga dua di antaranya memutuskan untuk keluar dan mencari sekolah lain.

Menanggapi dinamika yang berkembang, pihak sekolah telah menggelar pertemuan pada 2 Mei 2025, yang dihadiri oleh sekitar 40 siswa, orang tua, dan guru. Pertemuan itu bertajuk Evaluasi Laporan Perkembangan Belajar semester genap tahun ajaran 2024–2025.

Dalam forum tersebut, Solihin menegaskan bahwa seluruh siswa yang hadir tetap terdaftar sebagai peserta didik aktif di SMAN 1 Makassar. Ia juga mengumumkan adanya kebijakan tambahan berupa program pembelajaran remedial bagi siswa yang mengalami hambatan akademik, sebagai bentuk perbaikan proses belajar mengajar.

Terkait dua siswa yang telah berpindah sekolah, Solihin menyatakan pihaknya berkomitmen untuk melakukan pendekatan dan pemanggilan ulang demi memulihkan hak pendidikan mereka.

“Upaya akan kami tempuh agar mereka dapat kembali bersekolah di sini. Ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai institusi pendidikan,” ujarnya.

Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, satu dari dua siswa yang sudah berpindah menyatakan enggan kembali bersekolah di SMAN 1 Makassar. Sementara satu siswa lainnya belum berhasil dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan.

Pemerhati pendidikan, Muslimin Yunus, mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak selama proses pendidikan berlangsung.

“Kami berharap orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah. Sinergi yang kuat antara keluarga dan sekolah sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan capaian akademik siswa,” kata Muslimin.

Senada, pemerhati sosial kemasyarakatan, M Jufri, mengingatkan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak.

“Sekolah adalah rumah kedua bagi siswa. Di sanalah mereka belajar, bertumbuh, dan membentuk jati diri. Karena itu, semua bentuk tekanan yang bisa menyebabkan trauma harus dihindari, sesuai amanat Undang-Undang Perlindungan Anak,” tegas Jufri.

Menutup keterangannya, Solihin menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi internal terhadap sistem komunikasi dan prosedur pengambilan kebijakan di lingkungan sekolah.

“Langkah-langkah perbaikan segera kami ambil, termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Tujuannya jelas: memastikan seluruh siswa kami merasa aman, nyaman, dan tetap mendapatkan hak pendidikan secara penuh,” pungkas dia.

  • Bagikan