Pribumi.co.id, Maros — Di saat kebanyakan orang memilih bersantai di rumah bersama keluarga saat cuti Lebaran, seorang prajurit TNI Angkatan Laut justru menunjukkan aksi heroik yang patut diacungi jempol.
Anggota Satuan Patroli (Satrol) Pangkalan Utama TNI AL VI (Lantamal VI) Makassar, Kelasi Satu Zulkifli, menyelamatkan seorang remaja nelayan yang nyaris celaka di tengah laut Maros, Sulawesi Selatan.
Insiden itu terjadi ketika Zulkifli dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Desa Bontomatenne, Kabupaten Maros.
Alih-alih melalui jalur darat, ia memilih jalur laut—bukan hanya karena lebih cepat, tapi juga karena laut baginya sudah seperti halaman belakang rumah.
Namun, sekitar enam mil dari kawasan wisata Lantebung, langkahnya terhenti oleh pemandangan yang tak biasa, seorang remaja terombang-ambing di atas perahu kecil yang sudah terbalik. Tidak ada kapal lain di sekitar. Laut lengang, langit cerah, tapi suasananya mencekam.
“Saya lihat dia melambai-lambaikan tangan, minta tolong,” kata Zulkifli dalam keterangannya yang diterima Kantor Berita Pribumi, Minggu (13/4/2025).
“Saya lepas baju dinas lapangan (PDL) dan jadikan pelampung darurat. Di perahu saya memang tidak ada pelampung. Alhamdulillah bisa saya tarik naik,” lanjutnya.
Remaja itu diketahui bernama Rizal, 17 tahun, warga Desa Bonto Biraeng, Kecamatan Marusu. Ia nyaris tenggelam setelah perahunya bocor saat sedang memasang pukat jaring di laut. Dalam usaha menyelamatkan diri, Rizal justru membalikkan perahunya agar bisa tetap bertahan di atas air.
Setelah mengevakuasi Rizal ke perahunya, Zulkifli memberikan pertolongan seadanya, lalu menarik perahu korban yang rusak menuju daratan untuk mendapatkan bantuan medis.
Perwira Penerangan Lantamal VI, Mayor (KH) Suparman Sulo, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, aksi spontan Zulkifli mencerminkan karakter sejati seorang prajurit laut: sigap, tanggap, dan penuh empati.
“Di mana pun mereka berada, jiwa kemanusiaan prajurit TNI AL tetap melekat. Bahkan di tengah cuti sekalipun,” ujar Mayor Suparman.
Meski begitu, Zulkifli sendiri menolak disebut pahlawan.
“Saya cuma melakukan apa yang harus dilakukan,” singkat dia.
Tapi di mata Rizal dan keluarganya, Zulkifli lebih dari sekadar penyelamat. Ia adalah sosok yang hadir di saat tak ada siapa pun, membawa harapan dari gelombang yang nyaris menelan.








