Di Balik Derap Tank Israel, Jeritan Warga Rafah Tak Lagi Terdengar

  • Bagikan
Tentara Israel berjalan di dekat tank. (Dok: Reuters)

Pribumi.co.id – Suara sepatu tentara kembali bergema di tanah Gaza. Kali ini, gema itu datang dari Rafah, kota paling selatan yang kini dikepung pasukan militer Israel.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu, 13 April 2025, militer Israel menyebut mereka telah menyelesaikan penguasaan atas “Poros Morag,” jalur strategis yang menghubungkan Rafah dengan Khan Younis.

“Selama 24 jam terakhir, pasukan Divisi ke-36 menyelesaikan pembangunan rute Morag, yang memisahkan Rafah dan Khan Younis,” tulis pernyataan itu, dikutip dari Reuters.

Operasi militer ini bukan sekadar manuver taktis. Ini adalah babak baru dalam drama panjang perebutan Gaza yang penuh luka dan air mata. Poros Morag kini diklaim sebagai bagian dari zona keamanan Israel yang membentang dari Rute Philadelphi—jalur perbatasan Gaza-Mesir—hingga ke bagian dalam Gaza.

“IDF kini telah menyelesaikan pengambilalihan Poros Morag, mengubah seluruh wilayah ini menjadi bagian dari zona keamanan Israel,” kata Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz.

Langkah itu menandai fase ofensif yang kian agresif. Dimulai sejak 2 April, pengepungan ini memaksa ratusan ribu warga Palestina untuk mengungsi, meninggalkan rumah, tanah, dan kenangan.

Sejumlah besar warga kini menempuh perjalanan ke utara, berharap menemukan ruang yang lebih aman di tengah puing-puing dan ketidakpastian.

Tak berhenti di situ. Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru-baru ini untuk penduduk Khan Younis dan area lainnya di Gaza selatan.

“Segera, operasi IDF akan meningkat dan meluas ke area lain di sebagian besar Gaza. Penduduk harus mengevakuasi zona pertempuran,” kata Katz.

Namun di balik retorika ‘keamanan’ yang terdengar justru ratapan dari rakyat sipil. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan dampak buruk dari pemindahan paksa ini. Semakin kecil ruang gerak warga sipil, semakin besar pula risiko krisis kemanusiaan yang tak terhindarkan.

Ironisnya, semua ini terjadi saat fajar harapan muncul dari meja perundingan. Hamas menyatakan kesiapan untuk mencapai titik terang dalam pembicaraan gencatan senjata. Tapi seperti biasa, dentum meriam tampaknya selalu lebih cepat dari diplomasi.

  • Bagikan