Pribumi.co.id – Ketegangan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia kembali memuncak. Pemerintah China resmi melayangkan protes atas langkah Amerika Serikat (AS) yang kembali menaikkan tarif impor terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu.
Langkah terbaru ini dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif baru sebesar 125 persen untuk berbagai barang dari China.
Kebijakan yang diumumkan pada Rabu waktu setempat itu segera menuai kecaman dari Beijing, yang menyebut tindakan Washington sebagai bentuk ‘perundungan ekonomi’.
“Kenaikan ini adalah kesalahan besar. Ini menunjukkan perundungan AS,” kata pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China seperti dikutip dari BBC, Kamis (10/4/2025).
China menegaskan, pihaknya akan mengambil langkah hukum melalui mekanisme multilateral di bawah naungan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Pemerintah China juga menyatakan komitmennya untuk mempertahankan sistem perdagangan global yang adil.
“Kami akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingan kami yang sah sesuai dengan aturan WTO, dan dengan tegas menegakkan sistem perdagangan multilateral dan tatanan ekonomi dan perdagangan internasional,” lanjut pernyataan tersebut.
Langkah AS ini disebut sebagai balasan atas tindakan China sebelumnya yang menaikkan tarif sebesar 84 persen terhadap sejumlah produk asal Amerika. Presiden Trump dalam pernyataan resminya menyebut kebijakan ini sebagai bentuk pembelaan atas dugaan praktik dagang tidak adil yang dilakukan oleh Beijing.
“Berdasarkan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China kepada pasar dunia, dengan ini saya menaikkan tarif yang dikenakan Amerika Serikat kepada China menjadi 125 persen, yang berlaku segera,” ujar Trump.
Trump menambahkan, praktik dagang merugikan yang dilakukan oleh China sudah berlangsung terlalu lama dan harus dihentikan.
“Pada suatu saat, mudah-mudahan dalam waktu dekat, China akan menyadari bahwa masa-masa mereka menipu AS dan negara-negara lain tidak lagi dapat diterima,” tegasnya.
Diketahui, ketegangan ini merupakan lanjutan dari konflik dagang yang kembali membara sejak awal tahun 2025. Trump, yang kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden, terus mengusung narasi keras terhadap China dalam berbagai pidato kampanye.
Sementara itu, pelaku pasar dan pengamat perdagangan internasional mewaspadai dampak lanjutan dari perang tarif ini terhadap stabilitas ekonomi global. Beberapa analis menyebut eskalasi ini bisa berdampak pada rantai pasok dunia, investasi asing, hingga menekan harga komoditas.








