Pribumi.co.id, MAKASSAR – Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto berbicara tentang perjalanan politiknya di hadapan pengurus Relawan Pro Jokowi (Projo) se-Sulawesi Selatan (Sulsel).
Dia mengawali cerita dengan kemenangannya dalam Pilwalkot Makassar 2013 melalui kotak kosong, dan terpilih kembali dalam Pilwalkot 2020.
Danny menyampaikan pengalamannya itu saat menjadi pembicara utama dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Projo Sulsel di Hotel Four Points by Sheraton pada Sabtu (6/7/2024).
Dia mengapresiasi peran Projo sebagai navigator politik di Indonesia, menyebutnya sebagai katalisator dalam proses politik yang kompleks.
“Projo memang bukan sebuah partai tetapi dalam sejarah membuktikan Projo menjadi katalis dari sebuah proses politik yang rumit. Projo juga menjadi lampu sein, kira-kira menjadi navigasi dari sebuah proses politik,” ujar Danny disambut tepuk tangan.
Danny juga memuji tagline Projo ‘Setia di Garis Rakyat’ yang sukses menyatukan relawan dengan simbol Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, peran Projo dalam Pilkada Serentak 2024 sangat strategis bagi calon kepala daerah.
“Di pilkada ini tidak kalah pentingnya dengan Pilpres karena pemimpin lokal menjadi bagian yang mewarnai pergerakan dinamika republik ini,” ujar dia,
“Sehingga dukungan dan pikiran Projo ‘Setia di Garis Rakyat’ itu harus disosialisasikan kepada semua calon pemimpin daerah yang insyaallah akan bertarung 27 November yang akan datang,” tambah Danny.
Dalam pidatonya, Danny mengisahkan bagaimana ia berhasil memenangkan pertarungan menjadi Wali Kota Makassar selama dua periode.
Ia menekankan bahwa perjalanannya agak unik karena memenangkan tiga kali dalam dua periode, termasuk kemenangan melalui kotak kosong.
“Saya sudah dua periode walau pun perjalanan politik saya agak khas. Biasanya orang-orang 2 periode itu 2 kali menang. Tapi dalam sejarah dunia barangkali, saya 2 periode tiga kali menang karena ada kemenangan kotak kosong di tengahnya,” tuturnya.
Danny juga berbagi tentang latar belakang kariernya sebagai seorang akademisi selama 21 tahun di Universitas Hasanuddin (Unhas), serta pengalamannya yang meliputi masa sebagai “anak lorong” dan masuk ke dunia politik.
“Saya bilang, saya ini hidup pada 4 alam. Saya akademisi 21 tahun, dosen arsitektur di Unhas, saya profesional, sertifikasi saya sama dengan Ridwan Kamil. Saya pernah jadi anak lorong 40 tahun dan kemudian masuk ke politik,” pungkas Danny.
Danny menegaskan komitmennya untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Sulsel setelah menjabat dua periode sebagai wali kota, menggambarkan politik sebagai lokomotif tanpa jalan mundur.








