Pribumi.co.id, Soppeng – Pengunjung memadati taman wisata alam permandian air panas Lejja, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), Jumat (12/4/2024).
Direktur Utama Perusda Soppeng Muhammad Jufri mencatat, sedikitnya terdapat 5.268 wisatawan berkunjung ke permandian tersebut khusus di hari kedua libur Lebaran Idul Fitri 1445H.
“Untuk hari pertama hanya sekitar 356 orang. Hari kedua itu langsung membeludak karena tembus 4.912 orang,” ungkap Muhammad Jufri kepada awak media.
Muhammad Jufri memprediksi kunjungan wisatawan akan terus meningkat hingga akhir pekan ini.
“Kami memprediksi jumlah pengunjung akan bertambah saat akhir pekan. Apalagi banyak orang Soppeng yang pulang kampung memanfaatkan libur lebaran,” kata Muhammad Jufri.
“Pengunjung banyak karena banyak orang Soppeng yang dari merantau pulang liburan. Belum lagi pengunjung dari kabupaten lain seperti Bone, Pinrang, Wajo, dan Sidrap,” tambah dia.
Muhammad Jufri juga menyebut, Perusda Soppeng sudah melakukan pembenahan di kawasan Lejja. Mulai dari jalur masuk dan lokasi parkiran yang luas.
“Tidak ada lagi antrean kendaraan seperti tahun-tahun sebelumnya karena jalur masuk dan jalur keluar sudah dilebarkan. Selain itu kami juga buat lahan parkiran yang luas yang bisa menampung ratusan kendaraan,” jelasnya.
Jufri menambahkan, Perusda Soppeng sudah menambahkan wahana baru, yakni kolam untuk anak-anak. Sedangkan untuk harga tiket masuk tidak ada perubahan.
“Ada wahana baru kami di Lejja yang saat ini digemari oleh pengunjung. Untuk tiket tetap, Rp 20 ribu per orang termasuk kehutanan, untuk motor Rp 5 ribu, dan mobil Rp 10 ribu,” jelasnya.
Sejarah Pemandian Air Panas Lejja
Taman Wisata Alam (TWA) Lejja merupakan pemandian air panas yang terletak di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Lejja berada dalam kawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Selatan, berupa hutan lindung di Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa.
Sumber air panas Lejja ini diketahui berasal dari gunung api yang kini sudah tidak aktif.
Di dalam kawasan ini ada 16 satwa liar jenis ever yang dilindungi, 10 ekor kringkin bukit (prionitas platury), dan satu ekor prikici dora (tricholusus otaney).
Air panas Lejja berasal geothermal gradient. Yakni laju peningkatan temperatur seiring dengan meningkatnya kedalaman di interior bumi.
Sumber air panas Lejja disebut muncul dari air hujan yang menyerap ke sela-sela bebatuan hingga di kedalaman 10 sampai 25 Km.
Sementara di bawahnya, terdapat lahar panas sehingga mengeluarkan air panas.
Di wilayah ini, dulunya merupakan kawasan gunung api yang berusia sekitar 1,5 hingga 2 juta tahun lalu. Namun gunung api itu kini sudah tidak aktif.
Dari situ, Pemerintah Daerah (Pemda) Soppeng pun melakukan rehabilitasi dengan membangun beberapa kolam sebagai tempat untuk berendam.
Lejja yang dulunya hanya sumber mata air panas biasa kini menjadi salah satu lokasi wisata favorit.
Sebelumnya, nama desa lokasi Permandian Air Panas Lejja bernama Babbae.
Namun berubah menjadi Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa.
Kini Taman Wisata Lejja dikelola Perusahaan Daerah (Perusda) Soppeng melalui PT Lamataesso Matappa.
Konon, masyarakat sekitar meyakini sumber mata air panas Lejja berasal dari sebuah pohon tua yang berusia ratusan tahun.
Selain itu, air panasnya juga diyakini berkhasiat bagi kesehatan.
Bahkan, ada yang menyebutkan air panas Lejja mampu menyembuhkan beragam penyakit kulit, serta dapat mendatangkan keberuntungan.
Oleh karena itu, banyak pengunjung yang bernazar di dekat sumber mata air tersebut. (**)








