Pribumi.co.id, Maros – Organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat (GR) terus menunjukkan geliatnya di berbagai daerah. Teranyar, Dewan Pengurus Daerah (DPD) GR Kabupaten Maros menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di Warkop Santuy, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, pada Senin (28/4/2025).
Dalam suasana penuh keakraban, belasan relawan Anies Baswedan yang kini bernaung di bawah GR berkumpul sejak pagi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, namun disatukan oleh semangat perjuangan untuk perubahan yang pernah dikibarkan pada Pilpres lalu.
Musda tersebut menetapkan Andi Ikbal Dwi sebagai Ketua DPD GR Maros periode 2025–2030. Sosok pensiunan birokrat dan pamong senior itu akan didampingi oleh Muhammad Arbi sebagai sekretaris dan Ekha Merdekawati sebagai bendahara.
“Ini amanah yang berat, tapi mulia. Karena sejak dulu kami telah menjadi bagian dari gerakan perubahan, maka insya Allah dengan dukungan bersama, kita bisa membesarkan GR di Maros,” kata Ikbal dalam sambutannya.
Ia menyebut komitmen GR dalam memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan rakyat sebagai alasan utama dirinya terpanggil memimpin organisasi ini.
“Apalagi ada sosok Anies Baswedan yang menjadi inspirasi perjuangan di GR, maka lengkap sudah alasan kami untuk bergabung dan berkontribusi,” ujarnya.
Ikbal pun mengajak seluruh elemen relawan dan simpatisan perubahan di Kabupaten Maros untuk bersatu dan memperluas jaringan GR hingga ke pelosok desa.
“Siapa lagi kalau bukan kita yang dulu berjuang bersama? Mari kita jadikan GR sebagai wadah untuk melanjutkan perjuangan demi kemaslahatan bangsa,” serunya.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GR Sulawesi Selatan, Asri Tadda, turut hadir dalam Musda tersebut. Ia menegaskan bahwa GR kini bertransformasi menjadi ormas yang memiliki platform dan regulasi yang jelas.
“Jika dulu kita bergerak sebagai relawan, kini di GR kita harus lebih tertib dan terarah. Buku Jingga adalah pedoman kita dalam mengelola organisasi ini,” ujar Asri sambil menunjukkan buku panduan GR.
Asri menjelaskan, GR hadir sebagai wadah untuk merawat visi perubahan melalui program sosial dan kemasyarakatan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa GR tidak boleh buta terhadap dinamika politik.
“Tak ada aspek kehidupan rakyat yang sepenuhnya lepas dari politik. Karena itu, GR harus peka terhadap isu-isu politik, baik lokal, nasional, maupun global,” katanya.
Ia menargetkan agar struktur GR terbentuk lengkap di seluruh 24 kabupaten/kota di Sulsel, kemudian diperluas hingga ke kecamatan, desa, dan kelurahan.
“Kalau GR hadir di tiap desa dan kelurahan, maka perjuangan kita akan lebih terstruktur dan aspirasi rakyat bisa lebih terjangkau,” tutur Asri.
Terkait kemungkinan GR bertransformasi menjadi partai politik, Asri tidak menutup kemungkinan itu. Namun, ia menekankan agar GR tetap fokus pada kerja-kerja sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Perjuangan kita jangan semata untuk tujuan politik praktis. GR harus tetap menjadi gerakan rakyat yang tulus memperjuangkan perubahan,” pungkasnya.








