Pribumi.co.id — Harga minyak dunia terperosok tajam hingga 7 persen pada Jumat (4/4), menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Aksi jual besar-besaran di pasar energi terjadi setelah China mengumumkan akan menaikkan tarif sebesar 34 persen untuk seluruh produk asal Amerika Serikat mulai 10 April mendatang.
Langkah Beijing tersebut disebut sebagai balasan atas tarif baru yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump pekan lalu, memperuncing ketegangan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia.
Kekhawatiran pun merebak di kalangan investor, yang menilai eskalasi konflik dagang ini bisa memicu gelombang resesi global.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent — patokan global — ditutup turun 4,56 dolar AS atau sekitar 6,5 persen ke level 65,58 dolar AS per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS anjlok lebih dalam, turun 4,96 dolar AS atau 7,4 persen ke 61,99 dolar AS per barel.
Pada titik terendah perdagangan hari itu, Brent sempat menyentuh 64,03 dolar AS per barel, sementara WTI merosot hingga 60,45 dolar AS per barel — harga terendah sejak empat tahun terakhir.
Penurunan drastis ini menandai pekan terburuk bagi pasar minyak dalam lebih dari setahun. Harga Brent merosot 10,9 persen dalam sepekan, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan 2023. Adapun WTI mencatat penurunan mingguan sebesar 10,6 persen, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
“Menurut saya, harga minyak saat ini sudah cukup mencerminkan kondisi pasar, setidaknya sampai kita mendapatkan gambaran lebih jelas soal seberapa besar pelemahan permintaan global,” ujar Scott Shelton, analis energi senior dari United ICAP.
Shelton juga memperkirakan harga WTI bisa terus melemah ke kisaran pertengahan hingga akhir 50 dolar AS per barel dalam waktu dekat, seiring dengan prospek permintaan yang terus menurun akibat perlambatan ekonomi global.
Gejolak pasar energi turut menyeret komoditas lainnya. Harga gas alam, kedelai, dan emas dilaporkan ikut melemah. Sementara itu, bursa saham global juga berguguran akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Bank investasi JPMorgan kini merevisi proyeksi mereka terkait risiko resesi global. Peluang terjadinya resesi pada akhir 2025 meningkat menjadi 60 persen, naik tajam dari estimasi sebelumnya yang berada di angka 40 persen.
Dengan ketegangan dagang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, pelaku pasar kini berharap akan adanya langkah diplomatik untuk menurunkan suhu panas antara AS dan China, sebelum dampaknya menjalar lebih luas ke sektor riil dan menghantam perekonomian global.








