Pribumi..id, JAKARTA – Seruan untuk menarik dana dari bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atau Bank BUMN ramai diperbincangkan di media sosial.
Aksi ini diduga berkaitan dengan pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara), yang memunculkan berbagai spekulasi di tengah publik.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menanggapi isu tersebut dengan menyebutnya sebagai upaya dari pihak-pihak yang merasa tertekan dengan kuatnya pemerintahan saat ini.
Menurutnya, seruan itu tidak memiliki dasar yang jelas dan hanya bertujuan untuk menggerogoti kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan negara.
“Ini, mohon maaf kata, adalah upaya-upaya dari pihak-pihak tertentu yang stres. Stres menghadapi kuatnya pemerintahan sekarang. Karena pemerintahan yang kuat sekarang ini, dukungan parlemen kuat, dukungan rakyat kuat, kepuasan publik tinggi. Mereka takut,” ujar Nusron dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Nusron menegaskan bahwa tidak ada krisis ekonomi atau keuangan yang sedang melanda Indonesia. Oleh karena itu, ajakan menarik dana dari bank dinilainya sebagai tindakan yang tidak memiliki alasan kuat.
“Tiba-tiba, masa di Indonesia nggak ada krisis ekonomi, nggak ada krisis keuangan, tiba-tiba ada yang menginstruksikan dan mengkampanyekan untuk menarik uang dari bank. Ini tindakan yang tidak berdasar,” tegasnya.
Bahkan, Nusron menyebut aksi tersebut sebagai bentuk “subversi ekonomi” yang bertujuan mengguncang kestabilan perekonomian nasional.
Dia membandingkan situasi saat ini dengan krisis tahun 1998, di mana terdapat momentum krisis yang jelas. Namun, menurutnya, saat ini tidak ada kondisi yang dapat dijadikan alasan bagi seruan tersebut.
“Kalau menurut saya, ini kategorinya sudah subversi ekonomi. Bukan subversi politik, tapi subversi ekonomi. Nggak ada momentum krisis, tiba-tiba ada seruan seperti ini. Tahun 1998, banyak momentum krisis. Sekarang momentumnya apa? Nggak ada,” pungkas Nusron. (*)








