Pribumi.co.id – Helikopter militer Israel melakukan serangan di Rafah pada Kamis (13/6) kemarin, bersamaan dengan pertempuran antara tentara Israel dan milisi Hamas yang terjadi di jalanan Gaza City.
Laporan tersebut disampaikan oleh saksi mata yang berada di Rafah dan Gaza City, kota terbesar di Gaza.
Saksi mata di Rafah melaporkan bahwa serangan pada Kamis itu menargetkan wilayah barat.
Serangan Israel di Rafah menimbulkan kekhawatiran dunia karena wilayah tersebut menampung jutaan pengungsi Palestina.
“Ada tembakan intensif dari pesawat, helikopter, dan quadcopter,” kata seorang warga Rafah seperti dikutip dari AFP.
“Selain itu, ada juga serangan artileri dari kapal perang militer yang menyerang barat Rafah,” tambahnya.
Hamas mengakui intensitas serangan di Gaza pada Kamis ini.
Mereka menyebut telah mengerahkan pejuang untuk bertempur di darat, terutama di wilayah perbatasan dengan Mesir.
Pada saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyatakan bahwa upaya gencatan senjata di Gaza terhambat karena Hamas.
Kelompok penguasa Gaza itu meminta perubahan di beberapa bagian isi gencatan senjata.
Perang di Gaza pecah akibat serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Menurut data yang diperoleh AFP dari Israel, serangan Hamas menewaskan 1.194 warga Israel.
Israel juga melaporkan bahwa 251 warganya disandera oleh Hamas.
Saat ini, 116 warga Israel masih disandera di Gaza, 41 tewas, dan sisanya telah dibebaskan.
Serangan dan aksi penyanderaan oleh Hamas menjadi pembenaran bagi Israel untuk menyerang Gaza secara masif.
Laporan dari Kementerian Kesehatan di Gaza menunjukkan bahwa korban jiwa akibat serangan Israel mencapai lebih dari 36 ribu.
Data dari PBB dan otoritas kesehatan di Gaza menyebutkan bahwa korban jiwa termasuk anak-anak dan perempuan.





