Populasi Menyusut, Jepang Tawarkan Solusi Tak Biasa: Jodoh dari Pemerintah

  • Bagikan
Bendera Jepang Hinomaru tengah berkibar di udara.(Dok: Wikimedia Commons)

Pribumi.co.id – Jepang kembali mencatat penurunan jumlah penduduk pada tahun 2024, menandai tren penurunan selama 14 tahun berturut-turut.

Situasi ini semakin menegaskan tantangan demografis yang dihadapi Negeri Sakura, dengan komposisi penduduk yang makin menua.

Data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri Jepang yang dirilis Senin (14/4/2025) menunjukkan, hingga Oktober 2024 jumlah penduduk Jepang, termasuk warga negara asing, tercatat sebanyak 123,8 juta jiwa.

Angka ini turun sekitar 550.000 orang atau 0,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini bukan hal baru. Sejak mencapai puncaknya pada 2008, jumlah penduduk Jepang terus menurun tiap tahunnya, dan tren ini tak kunjung membaik sejak 2011.

Tak hanya soal jumlah, proporsi penduduk juga semakin timpang. Populasi lanjut usia (lansia) terus meningkat, sementara jumlah anak-anak terus menyusut.

Saat ini, hampir sepertiga penduduk Jepang—yakni 29,3 persen atau sekitar 36,24 juta orang—berusia 65 tahun ke atas, angka tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Jumlah ini meningkat 17.000 orang dibandingkan tahun lalu.

Sebaliknya, anak-anak berusia di bawah 15 tahun kini hanya mencakup 11,2 persen dari total populasi, atau sekitar 13,83 juta jiwa. Ini merupakan rekor terendah dan terus menurun sejak 1975, menurut laporan Japan Times.

Jika hanya menghitung warga negara Jepang, jumlahnya kini tinggal 120,3 juta orang—berkurang hampir 900.000 dari tahun sebelumnya.

Meski secara keseluruhan mengalami penurunan, dua wilayah mencatat pertumbuhan penduduk, yakni Tokyo dan Saitama.

Ibu kota Tokyo mencatat peningkatan paling signifikan, sebesar 0,66 persen. Saitama juga mencatat sedikit kenaikan, membalik tren penurunan sebelumnya.

Adapun wilayah dengan jumlah penduduk terbesar tetap didominasi oleh Tokyo (14,18 juta), diikuti Kanagawa (9,23 juta), Osaka (8,76 juta), Aichi (7,46 juta), dan Saitama (7,33 juta).

Menanggapi situasi ini, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi, menyatakan bahwa pemerintah terus berupaya mengatasi persoalan demografi dengan berbagai kebijakan.

“Kami ingin menciptakan masyarakat di mana siapa pun yang ingin punya anak bisa melakukannya dan membesarkannya dengan tenang,” ujarnya.

Berbagai langkah telah ditempuh pemerintah, termasuk meningkatkan dukungan finansial bagi keluarga, menaikkan upah untuk generasi muda, hingga menyediakan layanan perjodohan.

Meski begitu, para ahli menilai upaya ini masih membutuhkan waktu panjang untuk membuahkan hasil, di tengah gaya hidup urban dan biaya hidup tinggi yang menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong angka kelahiran di Jepang.

  • Bagikan