Pribumi.co.id Pangkep – Upaya mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan terus dilakukan oleh mahasiswa KKN Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas). Melalui kegiatan bertajuk “Sosialisasi Pembuatan dan Pemanfaatan Ekstrak Daun Pepaya sebagai Pestisida Nabati”, masyarakat diberikan edukasi mengenai alternatif pengendalian hama tanaman yang aman, murah, dan mudah diterapkan.
Kegiatan tersebut berlangsung pada pukul 13.00–15.00 WITA di Rumah Ketua Gapoktan, M. Nur, Kampung Pagang, Kelurahan Sibatua kecamatan, pangkajene kabupaten Pangkep sabtu (25/7/2026), Sosialisasi dipandu oleh Nur Halisa Aprilianti sebagai moderator, sementara materi disampaikan oleh Karmila Sari, mahasiswa KKN Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin. Seluruh mahasiswa Posko Kelurahan Sibatua turut berperan aktif dalam mendukung kelancaran kegiatan.
Dalam pemaparannya, Karmila Sari menjelaskan bahwa ekstrak daun pepaya dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang efektif membantu mengendalikan berbagai jenis hama tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pestisida kimia.
Peserta memperoleh penjelasan mengenai manfaat pestisida nabati sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan, aman bagi tanaman maupun manusia, serta memiliki biaya pembuatan yang relatif rendah. Selain itu, pemateri juga memperkenalkan alat dan bahan yang dibutuhkan, mulai dari blender, pisau, wadah, kain saring, botol semprot, daun pepaya segar, air bersih, hingga sedikit sabun cuci piring yang berfungsi sebagai perekat.
Tak hanya teori, peserta juga dibimbing memahami tahapan pembuatan pestisida nabati secara sistematis. Proses tersebut dimulai dari pemilihan dan pencucian daun pepaya, pemotongan daun, penghalusan menggunakan blender, pencampuran dengan air, proses fermentasi selama 12–24 jam, penyaringan larutan, penambahan sabun cair, hingga pengemasan ke dalam botol semprot yang siap digunakan.
Pemateri juga menjelaskan teknik aplikasi pestisida nabati yang tepat, yakni dengan menyemprotkan larutan secara merata pada daun dan batang tanaman pada pagi atau sore hari. Penyemprotan dianjurkan dilakukan kembali setiap lima hingga tujuh hari atau setelah hujan agar efektivitasnya tetap terjaga.
Selain cara penggunaan, peserta diberikan pemahaman mengenai teknik penyimpanan larutan agar kualitasnya tetap optimal, yaitu disimpan dalam botol tertutup di tempat yang sejuk dan digunakan dalam kurun waktu tiga hingga tujuh hari.
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, para petani menyampaikan berbagai pertanyaan seputar proses pembuatan, efektivitas penggunaan, hingga peluang penerapan pestisida nabati dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat terhadap inovasi pertanian yang lebih hemat biaya sekaligus berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin berharap pengetahuan yang diberikan dapat mendorong petani memanfaatkan potensi bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai solusi pengendalian hama yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas pertanian di Kelurahan Sibatua.




