Pribumi.co.id, Pangkep — Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) PT Semen Tonasa yang ke 57, sejumlah suara dari masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) mulai muncul dengan nada reflektif. Mereka berharap agar perusahaan pelat merah terbesar di Sulawesi Selatan itu kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Salah satu suara datang dari tokoh masyarakat sekaligus Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (Grib) Jaya Kabupaten Pangkep, Muhammad Rusli AB, yang menyampaikan kritik konstruktif atas perjalanan panjang Tonasa di Bumi Pangkep.
“Kami tidak menolak keberadaan Tonasa. Justru kami bangga karena Tonasa adalah kebanggaan daerah. Namun, masyarakat berharap agar perusahaan ini kembali hadir di tengah rakyatnya, bukan sekadar hadir di papan nama dan perayaan,” ujar Rusli dengan nada santun, Sabtu (2/11/2025).
Dulu Simbol Kemajuan, Kini Warga Menanti Sentuhan Nyata
Bagi masyarakat Pangkep, PT Semen Tonasa adalah ikon industri yang telah membawa nama daerah ke panggung nasional. Namun seiring waktu, sebagian warga mengaku mulai merasakan jarak antara perusahaan dengan masyarakat lingkar tambang.
Hasil sejumlah penelitian akademik memperkuat pandangan tersebut.
Studi Institut Pertanian Bogor (IPB) mencatat bahwa warga Dusun Boronguntia, Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, mengalami perubahan struktur agraria setelah beroperasinya tambang Tonasa. Sebagian warga kehilangan akses atas lahan yang dulu mereka garap, dan beralih menjadi pekerja di sektor informal.
Penelitian lain yang dilakukan di sekitar wilayah operasi perusahaan juga mencatat adanya perubahan bentang alam serta potensi debu industri yang mulai dikeluhkan masyarakat. Meski skalanya masih tergolong sedang, warga menilai penting adanya pemantauan berkelanjutan terhadap kualitas udara dan kondisi lingkungan.
Isu Geopark dan Ekologi: Perlu Kejelasan Bersama
Setelah kawasan Perbukitan Kars Maros–Pangkep ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, sejumlah lembaga lingkungan seperti WALHI Sulawesi Selatan menyoroti masih adanya aktivitas penambangan di sekitar kawasan karst. Mereka mendorong pemerintah dan perusahaan untuk memperjelas batas wilayah eksploitasi agar tidak tumpang tindih dengan area konservasi geopark.
Menanggapi isu tersebut, Rusli berharap agar pihak Tonasa bersama instansi pemerintah daerah segera melakukan evaluasi bersama.
“Kami tidak menuduh, hanya berharap ada kejelasan batas wilayah tambang dengan kawasan geopark. Ini penting agar keberlangsungan alam Pangkep tetap terjaga, karena di situlah sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.
CSR Belum Terasa Optimal
Di sisi lain, penelitian dari STIE Amkop Makassar menunjukkan bahwa program kemitraan dan bina lingkungan (CSR) Tonasa di tiga desa ring 1 — Biringere, Bontoa, dan Kalabbirang — belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kendati demikian, Rusli mengakui bahwa program-program sosial Tonasa tetap ada dan bermanfaat bagi sebagian warga, seperti bantuan pendidikan dan kegiatan keagamaan. Ia hanya berharap agar program CSR tersebut lebih terarah dan transparan, sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Harapan untuk Kembali “Menjadi Tonasa yang Dulu”
Di akhir pernyataannya, Rusli menegaskan bahwa kritik ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan.
“Kami ingin Tonasa kembali seperti dulu dekat dengan rakyat, peka terhadap lingkungan, dan menjadi kebanggaan Pangkep yang sesungguhnya,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Semen Tonasa belum memberikan keterangan resmi atas tanggapan masyarakat tersebut. Namun sejumlah pengamat menilai, dialog terbuka antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah dapat menjadi langkah penting dalam membangun kembali kepercayaan publik serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Pangkep.








