Pribumi.co.id Pangkep – Di sebuah desa sederhana, hidup seorang perempuan luar biasa bernama Mbah Jum. Meski tunanetra sejak lahir, semangat dan ketulusan hatinya membuat banyak orang menitikkan air mata haru. Ia bukan pejabat, bukan pula orang kaya. Hanya seorang pedagang tempe di pasar tradisional. Namun kisah hidupnya kini menjadi inspirasi dan bukti bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta dan rupa, melainkan oleh ketulusan amal dan keikhlasan hati.
Setiap pagi, Mbah Jum diantar oleh cucunya ke pasar. Dengan tangan renta, ia menggelar dagangan tempenya sambil bersenandung sholawat. Di saat pedagang lain sibuk menghitung uang dan bergosip, Mbah Jum justru memuji nama Allah dengan penuh kedamaian.
Cucunya lalu meninggalkannya sebentar untuk bekerja sebagai kuli panggul di pasar yang sama. Dua jam kemudian, ia kembali dan mendapati semua tempe sang nenek telah habis terjual.
Namun yang membuat banyak orang tertegun bukanlah cepatnya dagangan itu laku, melainkan prinsip hidup yang dipegang Mbah Jum. Setiap kali hasil penjualannya melebihi Rp50 ribu, ia meminta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan kelebihan uang tersebut ke kotak amal.
“Modal simbah cuma dua puluh ribu. Kalau dapat lebih dari lima puluh ribu, berarti itu rezeki milik Gusti Allah. Jadi harus dikembalikan ke rumah-Nya,” ujar sang cucu menirukan pesan Mbah Jum.
Keajaiban lain pun terjadi. Mbah Jum tak pernah salah hitung, padahal ia buta. Setiap pembeli yang membayar lebih, tak pernah meminta kembalian. Banyak yang mengaku, hati mereka tersentuh oleh ketulusan perempuan tua itu. Pernah suatu hari, hasil penjualannya mencapai Rp350 ribu. Tanpa ragu, Rp300 ribu dari jumlah itu langsung dimasukkan ke kotak amal masjid.
Di rumah, Mbah Jum juga dikenal sebagai tukang pijat bayi dan anak-anak di kampungnya. Ia tak pernah mematok tarif. Bahkan ketika diberi upah, seluruhnya ia sedekahkan kembali.
“Saya ini bukan yang menyembuhkan, tapi Gusti Allah. Jadi bayarnya bukan ke saya, tapi ke Allah,” ucapnya dengan polos dan penuh keyakinan.
Lebih menakjubkan lagi, Mbah Jum juga seorang hafidzah 30 juz. Ia menghafal Al-Qur’an meski tak pernah melihat huruf-hurufnya sejak lahir. Dalam sebuah wawancara, ia pernah berkata lirih,
“Saya memang tidak bisa melihat sejak lahir, tapi Allah izinkan saya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Betapa baiknya Allah pada saya.”
Ketulusannya menjadi teladan bagi banyak orang. Ia hidup sederhana, namun kaya dalam amal. Keikhlasannya membuat banyak orang menyebutnya sebagai “penduduk bumi yang membuat iri para bidadari surga.
”Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah, Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita-wanita dunia yang beriman lebih utama dari bidadari karena salat, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah.” (HR. Ath Thabrani)
Maka tidak berlebihan bila banyak yang percaya bidadari surga pun akan iri kepada Mbah Jum, seorang perempuan buta yang hidupnya penuh syukur, ibadah, dan sedekah tanpa pamrih.
Semoga kisah Mbah Jum menjadi cermin bagi kita semua untuk menanamkan keikhlasan dalam setiap amal dan menjadikan hidup sebagai ladang pahala menuju surga.
Sumber: Naufal RA
Penulis : Irene Radjiman.





