Pribumi.co.id, Pangkep – Di sebuah sekolah kecil di pelosok Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, seorang guru bernama Masnah sudah sembilan tahun setia mengabdi.
Setiap hari ia menempuh perjalanan menantang di laut demi mengajar anak-anak di SD 17 Pelokang Balo-Baloang.
Namun, pengabdian panjang itu tak berbuah manis. Namanya tidak tercantum dalam daftar kelulusan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Kisah Masnah viral di media sosial dan memantik simpati publik. Ia bukan satu-satunya. Banyak tenaga honorer lain yang sudah belasan hingga puluhan tahun mengajar, tetapi kembali harus menelan kekecewaan.
Melihat kondisi itu, Anggota DPRD Pangkep dari Komisi I, Muhammad Ramli, angkat suara.
Ia menilai proses seleksi perlu ditinjau ulang agar keadilan benar-benar dirasakan para tenaga honorer hal tersebut di sampaikan Ramli pada Kamis ( 11/9/2025).
“Pemerintah daerah sebaiknya melakukan evaluasi menyeluruh. Mereka yang sudah lama mengabdi, khususnya di daerah terpencil, pantas mendapat perhatian. Jangan sampai mereka terus menjadi honorer tanpa kepastian, sementara kesejahteraan pun jauh dari layak,” ujar Ramli.
Ramli menegaskan, seleksi PPPK paruh waktu ini merupakan peluang terakhir bagi banyak honorer. Jika gagal, maka pupus sudah harapan mereka untuk mendapat status lebih pasti.
“Masa iya mereka harus terus mengabdi sampai tua tanpa ada kepastian? Ini soal keadilan dan penghargaan atas pengabdian,” tambahnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bagi yang telah lolos seleksi agar benar-benar menjalankan amanah.
“Khususnya teman-teman yang bertugas di pulau, kembalilah ke tempat tugas. Tunjukkan dedikasi terbaik bagi anak-anak kita,” tutup legislator asal Dapil kepulauan tersebut.
Kisah Masnah menjadi potret kegelisahan banyak guru honorer di pelosok negeri. Mereka bukan sekadar tenaga pendidik, melainkan garda depan yang menjaga asa generasi muda meski dengan segala keterbatasan.




