Pribumi.co.id, Pangkep – Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan kini menghadapi ancaman serius: 140 ton sampah menumpuk setiap hari, namun kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pangkep justru dipertanyakan.
Data resmi DLH yang dikutip dari Infopublik.id (Mei 2025) mengungkap jumlah timbulan sampah tersebut. Ironisnya, meski angka sudah jelas, solusi nyata di lapangan nyaris tidak terlihat. Program bank sampah hanya sebatas wacana, fasilitas pemilahan minim, dan TPA terus dibanjiri sampah baru setiap hari.
“DLH hanya pandai bicara soal program, tapi realitanya sampah tetap menggunung. Jalanan penuh tumpukan, bau menyengat, warga jadi korban,” kata Rahman, warga Kecamatan Minasatene, Sabtu (20/9/2025).
Kondisi ini diperparah dengan janji DLH menghadirkan Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai terobosan energi terbarukan. Namun, hingga kini, sekadar wacana tanpa tindak lanjut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk Pangkep mencapai 359 ribu jiwa. Artinya, setiap orang menyumbang rata-rata 0,39 kilogram sampah per hari. Angka itu seharusnya bisa ditekan jika DLH bekerja lebih maksimal.
Pemerhati lingkungan lokal menilai DLH gagal menjalankan perannya. “Kinerja DLH seperti berjalan di tempat. Sampah tidak berkurang, malah terus menggunung. Kalau begini, jangan-jangan TPA akan kolaps lebih cepat dari prediksi,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, DLH Pangkep belum memberikan penjelasan resmi atas kritik keras masyarakat terkait minimnya langkah nyata dalam mengatasi krisis sampah.






