Pribumi.co.id – Saat Kerajaan Majapahit di Jawa Timur menguasai Asia Tenggara dan memegang hegemoni di lautan yang luas antara Samudera Hindia dan Laut Arafura di utara Australia (1293-1527), bangsa Eropa masih berusaha menemukan lokasi India.
Pada saat yang sama, Christopher Columbus baru saja menemukan Amerika, yang awalnya disangka sebagai India, pada 14 Agustus 1498. Oleh karena itu, penduduk asli Amerika kemudian dikenal sebagai orang Indian.
Para pionir Eropa yang pertama kali tiba di Nusantara adalah bangsa Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque pada tahun 1511, diikuti oleh bangsa Spanyol ke Tidore pada tahun 1521, dan bangsa Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ke Banten pada 27 Juni 1596.
Sejak kedatangan mereka dengan tujuan mencari kekayaan (Gold), ketenaran (Glory), dan menyebarkan agama Kristen (Gospel), mereka bersekutu dengan para pengkhianat lokal dan menggunakan strategi adu domba antara umat Hindu-Buddha dan Muslim yang mulai masuk ke Indonesia sejak abad ke-13 menurut ahli sejarah WF Stutterheim.
Kedatangan para kapitalis bersenjata dari Eropa dengan alasan perdagangan rempah-rempah akhirnya membuat Kerajaan Majapahit, yang merupakan kekaisaran terbesar di Asia Tenggara selama 234 tahun, mulai goyah dan akhirnya runtuh, meninggalkan sedikit jejak.
Setelah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mengalami kebangkrutan pada 31 Desember 1799, Pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan dan menerapkan kolonialisme di Indonesia.
Mereka menghapuskan sistem kasta dalam masyarakat Hindu sesuai dengan prinsip kesetaraan dalam liberalisme.
Namun, kasta rendah seperti Sudra dan Paria diidentifikasi secara negatif sebagai masyarakat yang tidak beradab di media internasional.
Dengan propaganda untuk meningkatkan derajat sosial bangsa Indonesia, pemerintah Inggris dan Belanda secara bergantian mendapatkan legitimasi untuk menerapkan kolonialisme di Indonesia (1596-1942), sebelum digantikan oleh Jepang selama Perang Dunia II (1942-1945).
Pada tahun 1848, kolonialis Belanda membagi masyarakat Indonesia menjadi bangsa Eropa dan pribumi. Diskriminasi ini berkembang menjadi pembagian antara bangsa Eropa, Timur Asing (Arab, China, India), dan pribumi Hindia-Belanda, yang direndahkan sebagai bangsa Inlander.
Pribumi Indonesia, yang kini dikenal sebagai orang Indonesia, terdiri dari berbagai suku, mulai dari Aceh di barat hingga Papua di timur, dan dari Miangas di utara hingga Rote di selatan.
Hak-hak pribumi Indonesia sangat terbatas, seperti halnya suku Indian di Amerika, Aborigin di Australia, dan Maori di Selandia Baru. Di ruang publik terdapat tanda-tanda diskriminatif yang melarang masuknya anjing dan pribumi.
Media internasional dan lokal sering menampilkan bangsa Indonesia sebagai masyarakat yang melarat dan bodoh, seperti yang terlihat dalam koran Bintang Hindia tahun 1905.
Orang asing berusaha menggantikan pribumi dengan bangsa mereka sendiri sebagai penduduk dominan di Indonesia.
Berbeda dengan gelombang migrasi bangsa Arab sebelumnya, bangsa Eropa enggan berasimilasi dengan pribumi Indonesia.
Bangsa Arab yang datang pada abad ke-7, ke-14, dan ke-18 mempertahankan nama marga mereka seperti Al-Gadri, Al-Aydrus, dan Al-Habsyi.
Pengaruh mereka dalam budaya cukup signifikan karena mereka menyebarkan agama Islam yang telah dianut oleh bangsa Indonesia sejak zaman Wali Songo di abad ke-14.
Kesultanan Arab di Pontianak, dengan Sultan ke-7 Hamid Algadri II, diangkat oleh penjajah Belanda sebagai Ajudan Istimewa Ratu Belanda.
Belanda juga mendukung Republik Kecil kapitalis Cina di Monterado, Kalimantan Barat, yang maju dalam perdagangan dan menantang Belanda hingga kalah dalam Perang Monterado pada tahun 1855.
Belanda berhasil menghasut pribumi Indonesia untuk membenci bangsa Cina, yang terbukti dalam bentrokan rasial dalam sejarah.
Bangsa Cina yang bermigrasi sejak abad ke-5 mulai berasimilasi dengan pribumi dan mengubah nama mereka menjadi nama Indonesia, seperti Rudi Hartono dan Budi Suraatmadja.
Perlakuan istimewa dari Belanda terhadap bangsa Eropa dan Timur Asing, serta inferioritas terhadap pribumi, membuat rasa rendah diri bangsa Indonesia berkepanjangan, sehingga mereka merasa tidak mampu memimpin bangsa mereka sendiri.
Keadaan ini sangat ironis dibandingkan dengan sejarah peradaban gemilang Indonesia sebelum migrasi bangsa Barat dan Timur pada abad ke-16. (*)







