Pribumi.co.id, PAREPARE – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada tahun 2023 mencapai 5,86 persen, meningkat 0,26 persen dari tahun sebelumnya.
Pada kondisi ini, tercatat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran tersebut.
“TPT di Kota Parepare cenderung menurun dalam empat tahun terakhir, tetapi tidak demikian pada tahun 2023. TPT Parepare mencapai 5,86 persen, naik 0,26 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Kepala BPS Parepare, Suparno Pani kepada wartawan, Senin (1/7/2024).
Suparno menjelaskan bahwa pengangguran tertinggi berasal dari lulusan SMK, yang mencapai 10,71 persen. Lulusan SMA juga mencatat angka pengangguran yang signifikan, yaitu 8,59 persen.
“Pengangguran lulusan SMK menunjukkan adanya ketidakcocokan antara keterampilan yang diperoleh di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja,” katanya.
TPT adalah rasio pengangguran terhadap seluruh penduduk yang termasuk angkatan kerja. Ini mencerminkan tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja.
“TPT Kota Parepare pada Agustus 2023 adalah 5,86 persen, yang berarti sekitar 5 hingga 6 dari setiap 100 orang angkatan kerja menganggur. Angka ini meningkat 0,26 persen poin dari Agustus 2022,” jelas Suparno.
BPS telah berkomunikasi dengan Pemerintah Kota Parepare untuk memperbaiki sistem pendidikan di tingkat menengah kejuruan agar lulusan SMK lebih mudah diserap oleh dunia kerja.
“Kami telah berdiskusi dengan Kadis UMKM dan Tenaga Kerja, yang membenarkan bahwa lulusan SMK dan SMA sulit terserap oleh lapangan kerja yang ada di Parepare,” ujarnya.
Suparno menyebut bahwa Parepare adalah kota niaga yang memerlukan keterampilan berbeda dibandingkan daerah lain di Sulsel.
Sementara itu, Kabid Penempatan dan Pelatihan Disnaker Kota Parepare, La Ode Arwah Rahman juga mengakui bahwa lulusan SMK menyumbang TPT terbesar di Parepare pada 2023.
“Namun, jumlah TPT ini sebenarnya telah menurun dibandingkan tahun 2022,” katanya.
La Ode menjelaskan bahwa jumlah SMK di Parepare ada 12 sekolah, baik negeri maupun swasta, dengan kurikulum yang 70 persen mendidik siswa untuk bekerja di sektor formal, dan hanya 15 persen untuk berwirausaha mandiri.
“Dengan 12 SMK yang mendidik untuk bekerja di perusahaan, sementara Parepare adalah kota UMKM, maka penyerapan tenaga kerja terbatas,” jelasnya.
Lanjut dikatakan, Disnaker Parepare selama tiga tahun terakhir telah berupaya mengurangi pengangguran melalui pelatihan yang menjembatani kesenjangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, seperti pelatihan branding produk, pemasaran digital, pembuat konten, dan videografi.
“Kendala yang kami hadapi adalah keterbatasan anggaran untuk pelatihan yang menjawab masalah ketenagakerjaan,” pungkas La Ode. (*)






