Pribumi.co.id – Kemiskinan bukan cerita sedih untuk diratapi, demikian prinsip Tajuddin pria muda usia, namun tua dalam kepribadian.
Tak banyak orang yang sudi berteriak di ranah sosial untuk setitik darah bagi orang lain.
Dunia senyatanya yang kita hadapi saat ini seperti ‘etalase di toko kelontong’ ada uang ada barang. Bantuan bisa berarti jalan bagi promosi kepentingan sang donatur.
Yayasan Peduli dan Berbagi didirikan di Kabupaten Pangkep, berisi orang-orang yang punya ketajaman matan hati, mereka berjuang menegakkan maruah kemanusiaan, menjemput rakyat miskin yang tak punya harapan, mereka menjaga harapan keluarga miskin yang gak tersentuh gegap gempita cerita sukses para pengendali daerah.
Seperti nyanyian Iwan Fals, “Orang pintar cari subsidi, anak kami kurang gizi.” Tetapi dengan tegas Tajuddin katakan, “yayasan kami bukan mengejar sumbangan.” Sore kemarin saya menduga ia kehabisan akal, maka suara di Wall Facebooknya berteriak ada obat yang tak tertebus, karena uangnya kurang Rp50 ribu.
Kami berbincang di jaringan WhatsApp, ada asa yang tak boleh pupus, karena cerita pintu surga bukan soal siapa yang paling bermandi harta, juga bukan siapa yang paling rajin ibadah, tetapi siapa yang paling peduli pada rasa kemanusiaan.
Problem penanganan pasien di Rumah Sakit (RS) dan ketersediaan obat bukan lagi rahasia, lembar resi tunggakan terjadi seperti benang kusut, gaji paramedis yang dibayar seperti mengharap hujan turun dimusim kemarau, disituasi itulah kita berharap adanya layanan kesehatan gratis seperti jargon para pembual acapkali pemilu datang.
Mimpi tentang tanggap darurat hanya ada saat bencana alam, itupun disertai kamera wartawan agar terlihat penuh dedikasi.
Yayasan bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, dirikan pada 2017 oleh seorang jurnalis Rakyatku bernama Tajuddin Mustamin, dari FAJAR group. Pada tahun 2020 mendapatkan SK Kementerian Hukum dan HAM dan berubah nama jadi yayasan yang awalnya hanya komunitas.
Beralamat di jalan poros Makassar Pangkep, Bonto Gelang Kelurahan Samalewa Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Memiliki dua unit ambulans gratis dan 7 orang relawan aktif. Program yayasan ini adalah, pendampingan pasien miskin, bedah rumah dhuafa, pembagian beras dan sembako pada Dhuafa, pemberian bantuan bencana alam.
Tak hanya itu, yayasan ini juga sudah membangun mesjid di Kabupaten Takalar, Desa Sawakong Galesong Selatan, diberi nama Mesjid Nurhidayah, juga membangun mesjid Baiturrahman Kampung Kalibarang, Kelurahan Balocci, Kabupaten Pangkep. Memiliki rumah singgah di Kota Pangkep.
Demikian penyampaian Tajuddin kepada saya. Diskusi kami berakhir magrib menjelang, saya berharap bisa menjadi bagian dari kerja sosial mereka, sekalipun jauh.
Apa yang telah dirintis Tajuddin dan para relawan kemanusiaan di Pangkep, patut menjadi jalan pembelajaran bagi kita semua, terutama saya pribadi. Hidup tak akan pernah indah jika kita tak ikut merasakan derita sesama kata Mahatma Gandhi.
Pangkep adalah ‘kampung’ kedua bagi saya, dulu di tahun 1994-1998 saya pernah menjadi honorarium daerah di Kantor Bupati Pangkep. Sedangkan Tajuddin adalah rekan saya dalam organisasi profesi jurnalis.
Kami berjumpa beberapa kali saat pelatihan jurnalistik yang meminta saya sebagai instrukturnya.
Baru sore ini saya mendapatkan gambaran jelas, bahwa dengan semua kesibukan liputan media, ia masih memiliki spirit kepedulian pada masyarakat.
Saya merasa bersyukur bertemu orang-orang sebaik Tajuddin. Semoga kepadanya saya bisa belajar bagaimana memiliki kemampuan yang tak lazim itu. Selamat berjuang anda patut dihormati.
Watampone 19 Mei 2024
Zulkarnain Hamson





