Pribumi.co.id, Pangkep — Di tengah derasnya arus zaman yang menukar kebenaran dengan kenyamanan, ketika nurani sering dikorbankan di altar kepentingan, masih tersisa bara kecil yang menolak padam bara moralitas dan idealisme. Dua kata sederhana yang sesungguhnya menjadi pilar tegaknya martabat manusia dan arah peradaban.
Gagasan itu dituangkan oleh akademisi dan penulis Buhari Fakka dalam refleksi intelektualnya berjudul Manifesto Moral dan Idealisme Intelektual, yang dikirim ke redaksi Pribumi.co.id, Selasa (21/10/2025).
Buhari menulis dengan nada yang tajam sekaligus berjiwa: moralitas adalah cahaya batin yang menuntun langkah manusia. Ia tak bisa dibeli, tak dapat dipalsukan. Ia tumbuh dari kesadaran terdalam bahwa hidup bukan sekadar mencari aman, melainkan menegakkan yang benar.
Sementara idealisme, tulisnya, adalah nyala abadi yang membuat manusia berani menentang arus bahkan ketika harus berjalan sendirian di tengah badai kepalsuan.
“Tanpa moralitas, ilmu hanyalah alat keserakahan. Tanpa idealisme, politik hanyalah panggung sandiwara, tempat nurani diperjualbelikan dengan murah atas nama kompromi,” tulis Buhari.
Baginya, kebenaran tidak membutuhkan pembela yang ragu, sebagaimana keadilan tidak akan tumbuh dari lidah yang takut bicara.
“Seorang ilmuwan yang tahu kebenaran tetapi memilih diam bukanlah bijak ia hanyalah pengecut yang cerdas,” tegasnya, menggugah kesadaran mereka yang kerap bersembunyi di balik kata netral.
Dalam tulisannya, Buhari juga menyoroti fenomena intelektual yang lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga kebenaran. Ia menegaskan bahwa netralitas semu adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani.
“Intelektual sejati berpihak bukan karena benci, melainkan karena cinta pada kebenaran,” tulisnya dengan nada getir namun berlapis kasih moral.
Zaman ini, menurut Buhari, sarat dengan kepalsuan yang dikemas rapi dalam bahasa manis. Namun di tengah kelicikan itu, keberanian untuk bersikap adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan.
“Lebih mulia kalah karena jujur, daripada menang karena berkhianat pada nurani,” tulisnya menutup bagian refleksi dengan nada yang membakar semangat moralitas.
Buhari menegaskan, sejarah tidak pernah mengabadikan mereka yang pandai mencari aman. Ia justru mengangkat mereka yang berdiri tegak ketika dunia memaksa berlutut. Moralitas dan idealisme, baginya, bukan sekadar konsep melainkan napas yang menegakkan kemanusiaan itu sendiri.
Di tengah dunia yang terus kehilangan arah, Manifesto Moral dan Idealisme Intelektual hadir bukan sekadar tulisan, tetapi seruan moral panggilan bagi para intelektual untuk tidak hanya berpikir, tetapi juga berani berdiri di pihak kebenaran.
Penulis : Buhari Fakka ( dosen muhamadiyah sidenreng Rappang)
Rappang, 21 Oktober 2025







