Pribumi.co.id, Jakarta — Langit Jakarta tampak berawan, seolah ikut menahan napas ketika gema suara mahasiswa mengguncang kawasan Monumen Nasional (Monas), Senin (20/10/2025).
Di tengah arus kendaraan dan hiruk-pikuk ibu kota, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) berdiri tegak membawa seruan nurani: evaluasi total Kabinet Merah Putih.
Korpus BEM SI, Muzammil Ihsan, menjadi sosok sentral di antara lautan jaket almamater. Dengan nada tegas namun beretika, ia menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka perlu berani meninjau ulang para pembantunya yang dianggap gagal menunaikan amanah rakyat.
“Kami mendesak Presiden untuk melakukan evaluasi total terhadap seluruh jajaran Kabinet Merah Putih. Copot menteri yang tidak berpihak pada rakyat, yang gagal melindungi lingkungan, dan yang abai terhadap penegakan hak asasi manusia,” seru Muzammil dengan suara yang menggema di bawah langit Monas.
Dalam pernyataannya, BEM SI memaparkan sejumlah tuntutan utama, di antaranya:
Pencopotan menteri yang dinilai gagal dan tidak pro-rakyat, terutama di bidang lingkungan hidup, ekonomi kerakyatan, dan HAM.
Transparansi kebijakan publik, agar masyarakat dapat mengawasi langsung proses pengambilan keputusan di pemerintahan.
Penegakan hukum tanpa pandang bulu, termasuk terhadap pejabat tinggi yang terindikasi menyalahgunakan kekuasaan.
Komitmen nyata terhadap keberlanjutan lingkungan, dengan menghentikan praktik perusakan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkeadilan.
Pemulihan demokrasi kampus dan kebebasan akademik, sebagai bagian dari ruang kritis bangsa yang mulai menyempit.
“Gerakan ini bukan bentuk perlawanan, tetapi panggilan moral dari kampus untuk negeri. Kami datang bukan untuk menggugat kekuasaan, tapi untuk mengingatkan: bahwa kuasa tanpa koreksi akan melahirkan kesewenang-wenangan,” tutur Muzammil, menutup orasinya dengan nada idealisme yang membuncah.
Aksi damai BEM SI berlangsung tertib di bawah pengawasan aparat keamanan. Mahasiswa dari berbagai universitas hadir membawa poster dan spanduk dengan pesan moral: “Rakyat Bukan Objek Kekuasaan!”
Satu tahun pemerintahan berjalan, suara mahasiswa kembali menjadi cermin bagi kekuasaan. Di tengah hiruk-pikuk politik dan gemerlap janji pembangunan, mereka hadir sebagai penyeimbang mengingatkan bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang siapa yang memegang tampuknya, melainkan seberapa besar ia sanggup mengabdi kepada rakyat dan menjaga bumi pertiwi.




