Pribumi. co. id Pangkep — Sabtu pagi itu, suasana Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah Darussalam Anrong Appaka tampak berbeda. Bukan sekadar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar Yayasan Darussalam, tetapi juga sebuah penanda penting tentang arah masa depan pendidikan Islam di Kabupaten Pangkep.
Acara yang berlangsung di Kecamatan Pangkajene, Sabtu (24/1/2026), itu menghadirkan beragam elemen: pengurus yayasan, dewan guru, ratusan siswa, orang tua, Forkopimcam, hingga pejabat Kementerian Agama tingkat kabupaten dan provinsi. Namun, di balik kekhidmatan doa dan zikir, terselip satu pesan kuat: Darussalam sedang menapaki babak baru.
Ketua Yayasan Darussalam, Prof. Saleh Ridwan, dalam sambutannya tidak hanya mengajak hadirin mengenang perjalanan spiritual Isra Mi’raj, tetapi juga menyinggung soal tanggung jawab besar yang kini dipikul madrasah. Ia mengungkapkan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak, terutama Kementerian Agama, yang telah mengantarkan Darussalam menerima bantuan pembangunan melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
“Ini bukan sekadar bantuan fisik. Ini amanah,” ujar Prof. Saleh. Ia menekankan bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan, melainkan harus diwujudkan dengan merawat fasilitas pendidikan dan memaksimalkan fungsinya bagi umat.
Ajakan itu juga ia arahkan kepada masyarakat luas. Menurutnya, fasilitas yang kini dimiliki madrasah hanya akan bermakna jika dihidupkan oleh kepercayaan publik untuk menyekolahkan anak-anaknya di MA dan MTs Darussalam.
Nada reflektif turut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pangkep, H. Ramli Rasyid. Ia mengingatkan bahwa makna syukur sering kali disalahpahami. Padahal, kata dia, janji Allah SWT jelas: nikmat yang disyukuri akan ditambah, bukan diselewengkan.
“Kita syukuri nikmat pendidikan, keluarga, dan kesempatan berbuat baik. Dari situlah keberkahan tumbuh,” tuturnya di hadapan para peserta.
Yang menarik, peringatan keagamaan ini juga membuka fakta penting. Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Doktor, Wahyudin Hakim, M. H, menegaskan bahwa bantuan yang diterima Darussalam bukanlah program biasa. PHTC, kata dia, merupakan program super prioritas Presiden Prabowo Subianto, yang hanya menjangkau sebagian kecil madrasah di Indonesia.
“Dari ribuan madrasah, hanya yang terpilih. Darussalam termasuk di dalamnya,” ujarnya. Pernyataan itu sontak menempatkan Darussalam sebagai salah satu titik perhatian baru dalam peta pendidikan madrasah di Sulawesi Selatan.
Lebih jauh, ia berharap pembangunan fisik tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran, bertambahnya jumlah peserta didik, serta tumbuhnya kesadaran lingkungan melalui gerakan satu siswa satu pohon.
Peringatan Isra Mi’raj itu ditutup dengan zikir bersama. Namun gema acaranya tak berhenti di situ. Di Anrong Appaka, peringatan ini seolah menjadi isyarat: di balik doa dan refleksi spiritual, sedang disusun langkah-langkah besar yang kelak menentukan wajah pendidikan Islam Pangkep ke depan. Dan pertanyaannya kini, sejauh mana Darussalam akan melangkah setelah titik ini?




