Pangkep Pribumi. co. id — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) menyoroti serius kasus dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG 02 Labakkang di beberapa sekolah di wilayah Pangkep.
Ketua PC PMII Pangkep, Ahmad Ma’ruf, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. Menurutnya, program MBG yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan peserta didik justru berujung pada ancaman keselamatan siswa.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini Program yang seharusnya menjamin asupan gizi bagi siswa malah menimbulkan dugaan keracunan. Ini menunjukkan adanya kelalaian serius, mulai dari proses pengadaan, pengolahan, hingga distribusi makanan,” tegas Ahmad Ma’ruf kepada media Pribumi. co. id pada Kamis ( 11/12/2025).
PMII Pangkep menilai peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai insiden biasa. Mereka mendesak pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, termasuk standar kebersihan dapur, kualitas bahan pangan, serta sistem pengawasan distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
Selain itu, PMII Pangkep juga meminta Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep bertanggung jawab penuh dan bersikap transparan dengan menyampaikan hasil pemeriksaan kepada publik.
“Kesehatan dan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai program MBG dijalankan sekadar menggugurkan kewajiban tanpa pengawasan ketat. Jika perlu, program ini dihentikan sementara sampai benar-benar dipastikan aman untuk dikonsumsi,” lanjutnya.
Lebih jauh, Ahmad Ma’ruf menegaskan pentingnya penanganan medis maksimal bagi para siswa yang terdampak, termasuk pendampingan hingga mereka pulih sepenuhnya. Ia juga berharap pihak sekolah lebih proaktif memastikan makanan yang diterima siswa layak dan aman sebelum dikonsumsi.
“Kami berkomitmen untuk terus mengawal persoalan ini hingga ada langkah konkret dan perbaikan nyata dari pemerintah daerah. Insiden ini harus dijadikan pelajaran penting dalam pelaksanaan kebijakan publik yang menyangkut keselamatan dan masa depan generasi muda,” tutupnya.






