Mengapa Hanya Pria yang Dinobatkan Jadi Nabi dan Rasul?

  • Bagikan
Ilustrasi nabi dan rasul. (Dok: Istimewa)

Pribumi.co.id, KHAZANAH – Pada suatu hari, sekelompok cendikiawan mengunjungi kediaman Rabi’atul Adawiyah atau yang dikenal dengan sebutan Robi’ah untuk diuji berbagai persoalan.

Saat berada di pondok Robi’ah, wanita yang digelari Sang Ratu Cinta itu pun ditanya oleh para cendikiawan tentang posisi laki-laki lebih mulia daripada wanita.

“Wahai Rabi’atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi telah dianugerahkan oleh Allah pada kaum lelaki, namun tidak kepada kaum wanita,” tanya ketua rombongan itu.

“Apa buktinya?,” balas Rabi’atul Adawiyah.

“Buktinya adalah mahkota kenabian dan rasul hanya dianugerahkan kepada kaum pria, begitu pun dengan kebangsawanan. Paling penting, tak ada seorang pun wanita yang diangkat menjadi nabi dan rasul, semua dari golongan pria,” jawab mereka dengan yakin.

Pernyataan kelompok cendikiawan itu pun dibenarkan Rabi’atul Adawiyah.

“Memang betul pendapat tuan-tuan. Akan tetapi harus diingat, sejahat-jahat jabatan ada pada kaum pria juga. Siapa yang mengagung-agungkan diri sendiri?, Siapa yang berani mendakwahkan diri sebagai tuhan?, Dan siapa pula yang berkata ‘bukankah aku ini tuhanmu yang mulia?’,” balas Robi’ah sambil merujuk pada Firaun dan Namrud.

Lanjut Rabi’atul Adawiyah mengatakan, anggapan dan ucapan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita.

“Malah (ucapan itu) semuanya dilakukan oleh kaum pria,” timpal Rabi’atul Adawiyah.

Mendengar jawaban Rabi’atul Adawiyah itu, para cendikiawan pun tertunduk malu dan pamit meninggalkan kediaman Robi’ah.

Wafatnya Sang Ratu Cinta, Rabi’atul Adawiyah

Kabar wafatnya Robi’ah terdapat dua pendapat, yang pertama menyebut Sang Ratu Cinta itu wafat pada 135 H atau 752 M. Sementara yang kedua berpendapat, Rabi’atul Adawiyah wafat pada 185 H atau 801 M.

Konon setelah itu, ada yang bermimpi melihat Rabi’atul Adawiyah, kepadanya ditanyakan.

“Bagaimana engkau menghadapi Munkar dan Nakir, wahai Robi’ah?,” tanya orang itu.

“Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya, ‘siapakah Tuhanmu?’. Aku menjawab, ‘pergilah kepada Tuhanmu dan katakan pada-Nya, di antara beribu-ribu makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah’,”

“Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepada-Mu. Tetapi mengapa Engkau mengirimkan utusan sekadar menanyakan ‘siapakah Tuhanmu’ kepadaku,” jawab Rabi’atul Adawiyah.

Berikut doa yang kerap dipanjatkan Rabi’atul Adawiyah kepada Allah SWT.

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku,”

Demikian kisah Sufi sang Ratu Cinta, Rabi’atul Adawiyah. Wallahu a’lam bish-shawabi. (AAM/Pribumi.co.id)

  • Bagikan