Wahidin Sudirohusodo Bangkitkan Perjuangan Kemerdekaan

  • Bagikan
Ilustrasi Wahidin Sudirohusodo. (Dok: Ist)

PRIBUMI.co.id, Historia – Wahidin Sudirohusodo, pria kelahiran Jawa Tengah, 7 Januari 1857, dari Orang tuanya yang berdarah Bugis dan Makassar.

Ia merupakan keturunan langsung dari Raja Gowa, I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Bakir Karaeng Bontomangape Tuminanga ri Ballapangkana, atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin.

Wahidin Sudirohusodo wafat di Jakarta pada 26 Mei 1917. Ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973.

Pada masa perjuangannya, Wahidin dikenal menentang kolonialisme, meski secara pribadi, ia memiliki hutang budi terhadap seorang Belanda yang baik hati membantu pendidikannya.

Saat itu, Wahidin tamat dari sekolah desa Ongko Loro (SD tiga tahun), ia terancam putus sekolah. Namun berkat bantuan seorang keturunan Belanda, Frits Kohle, administrator pabrik gula Wonolopo, Sragen, ia bisa melanjutkan ke Lagere School di Yogyakarta.

Ketekunanannya membuahkan hasil yang manis, ia bisa melanjutkan ke Tweede Europese Lagere School (SD untuk keturunan Eropa dan kaum priyayi). Hingga akhirnya berhasil masuk ke Sekolah Dokter Jawa di Batavia (1874).

Pergerakan Wahidin Sudirohusodo

Setelah menyelesaikan Sekolah Dokter Jawa di Jakarta, Wahidin Sudirohusodo kerap berkeliling di tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ia memberi ceramah tentang cara meningkatkan taraf hidup masyarakat (1906-1907).

Sejak awal, Wahidin sudah berkomitmen terhadap nasib rakyat. Meski sudah mapan dengan bekerja sebagai asisten di Sekolah Dokter Jawa, ia tidak sungkan merogoh koceknya untuk berceramah di berbagai tempat.

Hal itu dilakukan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pengajaran, Wahidin lalu menerbitkan majalah Retno Doemilah pada tahun 1904.

Untuk melawan kepercayaan masyarakat terhadap dukun dan takhayul, ia melansir majalah Goeroe Desa, yang memberitakan seluk-beluk Kesehatan.

Berkat semangat yang menggelora, ia mendapat dukungan dari sejumlah bangsawan yang terpengaruh ceramahnya, hingga Wahidin mendirikan Studiefonds (Dana Belajar), yakni lembaga donor bagi pemuda-pemuda cerdas yang tidak mempunyai dana untuk melanjutkan pendidikan.

Bersama Soetomo, pelajar STOVIA, Wahidin akhirnya mengembangkan Studiefonds ke wilayah politik. Itulah yang menjadi cikalbakal Boedi Oetomo, organisasi pertama yang mengajak bangsa ini berjuang meraih kemerdekaan.

Bangkitnya perjuangan kemerdekaan melalui jalur organisasi pergerakan nasional adalah salah satu wujud positif dari politik etis kolonial, 1907. (Dg Marala)

  • Bagikan