Kasus Stunting di Desa Mattiro Walie Turun dari 18 Menjadi 7 Anak

  • Bagikan
Suasana Rembuk Stunting di Desa Mattiro Walie, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. (Foto: Arman/Pribumi)

Pribumi.co.id, Pangkep – Pemerintah Desa Mattiro Walie, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, menggelar Rembuk Stunting sebagai bagian dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun Anggaran 2027. Kegiatan tersebut berlangsung di Pulau Samatellu Lompo, Sabtu (14/6/2026).

Kepala Desa Mattiro Walie, Hamzah, mengatakan angka stunting di wilayahnya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah, angka stunting di desa kami mengalami penurunan,” ujar Hamzah.

Menurut dia, rembuk stunting menjadi bagian penting dalam penyusunan program prioritas desa, khususnya pada sektor kesehatan masyarakat dan upaya pencegahan stunting.

Sementara itu, Ketua BPD Mattiro Walie, Nurdin, mengungkapkan jumlah kasus stunting di desa tersebut turun signifikan dalam setahun terakhir.

“Alhamdulillah, tahun ini angka stunting di Desa Mattiro Walie berkurang dari 18 kasus pada 2025 menjadi 7 kasus pada 2026. Ini merupakan hasil kerja ekstra pemerintah desa, Muspika, dan kader posyandu,” kata Nurdin.

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Liukang Tupabbiring Utara, Yudhistira, Kepala Puskesmas Harmawati, Tenaga Ahli P3MD Mardini Tahir, unsur Muspika, pendamping desa, kader kesehatan, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Dalam forum tersebut, peserta membahas berbagai langkah percepatan penanganan stunting, mulai dari penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi keluarga, hingga peningkatan keterlibatan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Rembuk stunting juga menjadi wadah sinkronisasi program antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, pendamping desa, dan para pemangku kepentingan lainnya agar upaya penanganan stunting dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan.

Pemerintah Desa Mattiro Walie berharap tren penurunan kasus stunting dapat terus dipertahankan melalui kolaborasi seluruh pihak serta pelaksanaan program pencegahan yang konsisten di tingkat desa. (Arman/Pribumi)

  • Bagikan