Pribumi.co.id Makassar — Konsolidasi besar industri makanan bergizi di Sulawesi Selatan resmi dimulai. Dalam forum Halal Bihalal yang digelar di Hotel Mercure Makassar, Sabtu (4/4/2026), Gabungan Pengusaha Makanan Bergizi Indonesia (Gapembi) Sulsel mempercepat pembentukan struktur organisasi hingga ke tingkat kabupaten/kota. Pada momentum itu, Rijal ditunjuk sebagai Ketua Gapembi Kabupaten Pangkep.
Penunjukan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis organisasi untuk memperkuat jejaring pelaku usaha di daerah, sekaligus memastikan rantai produksi dan distribusi makanan bergizi berjalan lebih terstruktur. Mandat diserahkan langsung oleh Ketua DPW Gapembi Sulsel, Nurdin Beta, kepada jajaran calon pengurus daerah yang hadir dari berbagai kabupaten/kota.
Langkah ini menandai pergeseran peran Gapembi dari sekadar forum komunikasi menjadi organisasi dengan struktur operasional yang lebih solid di tingkat lokal. Pangkep, yang memiliki kekuatan pada sektor sumber daya perikanan dan bahan baku pangan, diposisikan sebagai salah satu simpul penting dalam pengembangan industri makanan bergizi di Sulsel.
Di tengah agenda tersebut, sosok Rijal mencuat sebagai figur kunci di wilayah Pangkep. Ia tidak hanya menerima mandat struktural, tetapi juga memikul ekspektasi untuk memastikan program organisasi dapat berjalan konkret di lapangan.
“Gapembi menjadi mitra strategis dalam memperkuat sistem penyediaan pangan bergizi, mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga distribusi. Kami ingin memastikan seluruh tahapan berjalan terstandar, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Rijal.
Ia menegaskan, tantangan utama di daerah bukan semata pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada tata kelola dan efisiensi rantai pasok. Karena itu, kepemimpinannya akan difokuskan pada membangun ekosistem yang menghubungkan pelaku usaha dengan kebutuhan riil masyarakat, termasuk mendorong akses yang lebih luas terhadap pangan bergizi.
Sementara itu, Nurdin Beta menekankan pentingnya percepatan pembentukan struktur daerah sebagai fondasi utama organisasi. Menurutnya, kehadiran Gapembi di seluruh kabupaten/kota menjadi prasyarat untuk menciptakan kolaborasi yang efektif antar pelaku usaha.
“Organisasi ini tidak boleh berhenti di tingkat provinsi. Gapembi harus hadir di daerah sebagai wadah bersama untuk menguatkan kapasitas pengusaha sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Percepatan konsolidasi ini juga dipandang sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan sistem pangan bergizi yang lebih terintegrasi, terutama di tengah tantangan distribusi dan standarisasi produk di daerah.
Dengan mulai terbentuknya struktur di tingkat kabupaten/kota, Gapembi Sulsel kini bergerak menuju fase implementasi. Peran kepemimpinan daerah, termasuk di Pangkep, menjadi penentu sejauh mana agenda organisasi mampu diterjemahkan menjadi program nyata.
Di titik itu, kepemimpinan Rijal akan diuji bukan hanya dalam membangun organisasi, tetapi juga dalam memastikan bahwa konsolidasi yang dimulai dari ruang pertemuan tersebut benar-benar berlanjut menjadi dampak yang dirasakan di lapangan.




