Pribumi.co.id, Pangkep — Di tengah keputusan penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Samalewa 01, pihak pengelola melalui Yayasan Jalin Sinergi Indonesia akhirnya angkat bicara. Klarifikasi disampaikan untuk meluruskan informasi terkait keterlambatan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 2 Pangkep, Kamis (19/3/2026).
Perwakilan yayasan, Muliati Noor, menegaskan bahwa keterlambatan yang terjadi bukan disebabkan kelalaian, melainkan kendala teknis pada pasokan bahan baku utama, khususnya susu, yang menjadi komponen penting dalam menu MBG.
“Kami memahami adanya ketidaknyamanan. Namun sejak awal, kami sudah menyampaikan kondisi keterbatasan bahan baku kepada pihak sekolah secara terbuka,” ujar Muliati dengan nada tenang.
Ia menjelaskan, komunikasi antara pengelola dan pihak sekolah berjalan intensif. Bahkan, sebagai bentuk tanggung jawab, pengelola sempat menawarkan opsi penjadwalan ulang distribusi guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
Namun demikian, pihak SMK Negeri 2 Pangkep memilih agar distribusi tetap dilakukan pada hari yang sama, mengingat keesokan harinya merupakan jadwal libur siswa.
“Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan bersama. Pihak sekolah bersedia menunggu, dan kami menghormati keputusan tersebut sebagai bentuk sinergi,” jelasnya.
Keterlambatan tak terelakkan ketika pasokan susu yang didatangkan dari Makassar baru tiba pada sore hari. Meski begitu, tim SPPG Samalewa 01 bergerak cepat. Proses pengolahan hingga pengemasan dilakukan secara maraton agar distribusi tetap terlaksana di hari yang sama.
Hasilnya, program MBG tetap tersalurkan pada malam hari dan bahkan bertepatan dengan kegiatan buka puasa bersama yang diikuti siswa di lingkungan sekolah. Momentum tersebut justru memperlihatkan bahwa layanan tetap berjalan, meski dalam keterbatasan.
Salah seorang tenaga pendidik di SMK Negeri 2 Pangkep turut membenarkan bahwa keterlambatan telah dikomunikasikan sebelumnya.
“Memang ada keterlambatan, tapi sudah disampaikan sejak awal. Kami tetap mengawal hingga makanan diterima siswa pada hari yang sama,” ungkapnya.
Muliati menambahkan, kendala pasokan susu tidak hanya terjadi di SPPG Samalewa 01, tetapi juga dirasakan di sejumlah dapur MBG lainnya secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bersifat teknis dan meluas, bukan kasus tunggal.
Meski demikian, pihak pengelola tidak menutup mata. Mereka menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh untuk memperkuat sistem layanan ke depan.
“Kami berkomitmen menjadikan ini sebagai pembelajaran. Perbaikan akan kami lakukan, baik dari sisi manajemen pasokan maupun distribusi, agar ke depan lebih optimal,” tegasnya.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk menghentikan sementara operasional SPPG Samalewa 01 sebagai bagian dari proses evaluasi. Wakil Ketua BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa langkah tersebut bersifat pembinaan, bukan semata-mata sanksi.
“Evaluasi ini penting untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, pihak pengelola menyatakan sikap kooperatif dan siap mengikuti seluruh proses evaluasi yang berlangsung.
“Kami menghormati keputusan ini dan siap berbenah. Ini menjadi momentum bagi kami untuk memperkuat tata kelola layanan agar semakin baik ke depan,” tutur Muliati.
Di akhir pernyataannya, pengelola berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara utuh dan proporsional. Dukungan publik dinilai penting agar Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan sebagai upaya nyata dalam meningkatkan kualitas gizi peserta didik.




