Pribumi. co. id Pangkep — Senja di penghujung Ramadan 1447 H terasa berbeda di depan Markas Komando Polres Pangkep, Jumat (27/2/2026). Di tengah lalu lintas yang bergegas mengejar waktu berbuka, sejumlah tangan terulur dengan senyum yang tulus. Bukan untuk menilang, bukan pula untuk menegur, melainkan untuk berbagi.
Bersama Bhayangkari, jajaran kepolisian membagikan takjil kepada para pengendara dan pejalan kaki yang melintas. Paket-paket sederhana itu berpindah tangan di bawah cahaya matahari yang mulai meredup membawa pesan bahwa kehadiran aparat tak selalu identik dengan seragam dan ketegasan, tetapi juga dengan empati dan kepedulian.
Satu per satu kendaraan melambat. Ada pengemudi ojek, sopir angkutan, hingga ibu-ibu yang membonceng anaknya. Mereka menerima takjil dengan wajah yang semula lelah, lalu berubah menjadi senyum hangat. Di antara hiruk-pikuk jalan raya, suasana mendadak terasa lebih teduh.
“Terima kasih, Pak,” ucap seorang pengendara dengan mata berbinar. Kalimat sederhana, namun cukup untuk menguatkan makna berbagi di bulan penuh berkah ini.
Kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas seremonial Ramadan. Ia menjadi penegas bahwa polisi hadir bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga menenun kedekatan sosial. Di bulan yang mengajarkan kesabaran dan keikhlasan, aksi kecil itu menjelma jembatan yang mempererat hubungan antara aparat dan masyarakat.
Bagi warga Pangkep, momen ini adalah pengingat bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja bahkan dari mereka yang sehari-hari berdiri di garis depan penegakan hukum. Dan di bawah langit senja yang perlahan berubah menjadi malam, harapan pun mengalir: semoga semangat berbagi ini tak berhenti di Ramadan saja, tetapi terus hidup dalam setiap langkah pelayanan kepada masyarakat.
Ramadan kali ini, di Pangkep, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga tentang menumbuhkan rasa saling memiliki antara yang menjaga dan yang dijaga.




